Ramalan Resesi Covid Lebih Parah dari Krisis 98? Ini Kata Ekonom

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior INDEF Faisal Basri mengungkapkan Indonesia sulit mengelak dari kondisi resesi akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

    Dia bahkan mengatakan ada beberapa kalangan yang mengaitkan resesi yang bakal terjadi dengan krisis keuangan yang sempat dialami Indonesia pada periode 1997-1998.

    "Bagi sebagian kalangan, resesi ibarat hantu yang siap bergentayangan. Bahkan ada yang mengaitkan hantu resesi dengan krisis ekonomi 1998. Lebih dramatis lagi katanya bakal ada penjarahan. Apakah benar demikian?" katanya saat berbicara di channel Youtube Cokro TV dengan tema 'Indonesia Di Ambang Resesi', seperti dikutip Kamis 30 Juli 2020.

    Faisal menuturkan kondisi ekonomi Indonesia pada periode 1997-1998 sangat berat. Situasi tersebut dipicu krisis keuangan atau finansial Asia yang merembet ke Indonesia. 

    Krisis ekonomi 1998 ditandai dengan jatuhnya harga komoditas, konsumen tak mampu membayar utang, lembaga keuangan mengalami kekeringan likuiditas, dan terjadi penarikan dana masyarakat secara besar-besaran di bank sehingga sektor perbankan hancur (collapse).

    Bukan itu saja, kondisi yang parah juga terjadi di pasar saham dan diperparah dengan anjloknya nilai tukar rupiah.

    "Pasar saham crash atau nyungsep kalo kata orang Betawi. Nilai tukar rupiah melorot karena masyarakat tidak percaya dengan mata uangnya sendiri," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.