Dampak Resesi Amerika, Rupiah Pekan Depan Diprediksi Masih Loyo

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Pergerakan rupiah di pasar spot pada pembukaan perdagangan Senin, 3 Agustus 2020, diperkirakan masih loyo di kisaran Rp 14.650. Rupiah melemah ditengarai terpengaruh oleh faktor eksternal, yakni resesi Amerika Serikat.

    “Sampai 31 Juli, sudah ada beberapa negara yang terkena resesi dimulai dari Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Australia, lalu lari ke Jerman dan akhirnya Amerika Serikat. Kemungkinan ini berdampak pada rupiah kita yang akan dibuka langsung melemah signifikan pekan depan,” kata Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim saat dihubungi pada Jumat, 31 Juli 2020.

    Ibrahim mengatakan, resesi Amerika membuka peluang jumlah pengangguran di negara tersebut bertambah banyak sehingga situsai ini bisa menyebabkan indeks dolar menguat. Dalam kondisi tersebut, pergerakan mata uang di seluruh dunia berada pada jurang ketidakpastian.

    Apalagi, Amerika menguasai 20 persen perekonomian secara global. Bagi Indonesia, resesi Negeri Abang Sam menjadi pukulan berat karena negara tersebut merupakan tujuan ekspor terbesar selain Cina.  

    Sedangkan dari dalam negeri, mata uang garuda diprediksi loyo lantaran adanya perpanjangan masa PSBB transisi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Kalau diperpanjang sampai Agustus, akan berbahaya. Kalau masih masa PSBB transisi, PDB Indonesia akan negatif pada kuartal III,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Inpres Jokowi Mencampur Militer dengan Sipil dalam Penerapan Protokol Kesehatan

    Melalui Inpres Nomor 6 Tahun 2020, Jokowi menginstruksikan Panglima TNI dan Kapolri untuk membantu penerapan protokol kesehatan menghadapi Covid-19.