Terpukul Covid-19, The Guardian Akan PHK 180 Karyawan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wartawan membawa poster pada Hari Buruh di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, 1 Mei 2016. Mereka menghimbau pemilik dan jajaran manajemen media memberikan jaminan sosial bagi wartawan, memberlakukan upah layak di masing-masing daerah, Disnaker di daerah memberlakukan upah sektoral dan audit ketenagakerjaan pada perusahaan media. TEMPO/Prima Mulia

    Sejumlah wartawan membawa poster pada Hari Buruh di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, 1 Mei 2016. Mereka menghimbau pemilik dan jajaran manajemen media memberikan jaminan sosial bagi wartawan, memberlakukan upah layak di masing-masing daerah, Disnaker di daerah memberlakukan upah sektoral dan audit ketenagakerjaan pada perusahaan media. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Media asal Inggris The Guardian mengumumkan bakal memangkas karyawan dalam waktu dekat. Menurut perkiraan, akan ada sekitar 180 karyawan yang bakal terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK.

    "Sebanyak 110 di antaranya lain tersebar di departemen seperti periklanan, Guardian Jobs, bagian marketing, dan bisnis acara Guardian Live. Sementara 70 yang lain adalah karyawan editorial (redaksi)," tulis perusahaan di laman resminya, Rabu, 15 Juli 2020.

    PHK tidak akan dilakukan tanpa pemberitahuan. Pemimpin Redaksi Katharine Viner dan para petinggi lain dikabarkan sudah membuat pemberitahuan pribadi kepada karyawan terdampak.

    "Pendapatan The Guardian terganggu karena pandemi, dengan perkiraan pemasukan tahun ini akan terpangkas lebih dari 25 juta poundsterling."

    Kendati mengakui secara terbuka sedang bangkrut, Viner dan bos The Guardian Anette Thomas mengatakan bahwa mereka tidak akan mengubah media mereka menjadi media berbayar.

    "Meski tekanan Covid-19 mengganggu bisnis kami, model pendekatan unik kami kepada para pembaca terbukti sukses, dan strategi yang kami tempuh selama beberapa tahun terakhir adalah yang paling tepat."

    The Guardian selama bertahun-tahun terakhir memang diketahui tak mematok biaya untuk naskah-naskah mereka, sekalipun sebagian dari artikel tersebut bersifat tulisan mendalam (indepth). Mereka juga cenderung jarang mengandalkan iklan, dan fokus mencari pendapatan dari donasi sukarela pembaca.

    Selain itu, media ini juga hidup dengan mengandalkan bisnis-bisnis lain seperti event organizer dan agensi. Hanya saja, bisnis-bisnis penopang itu pun belakangan turut lumpuh akibat Covid-19.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.