Erick Thohir Sebut Alasan 4 BUMN Butuh Suntikan Modal Negara

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) memberikan bantuan secara simbolis kepada Petugas Kebersihan KAI dan KCI Mujenih sebagai bentuk Apresiasi Kejujuran Kementerian BUMN di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin, 13 Juli 2020. Kementerian BUMN memberikan apresiasi atas kejujuran kedua pegawai yang  mengembalikan kantong plastik hitam berisi uang tunai Rp 500 juta yang ditemukan di salah satu gerbong KRL tujuan Jakarta - Bogor, Senin (6/7) lalu. ANTARA/Muhammad Adimaja

    Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) memberikan bantuan secara simbolis kepada Petugas Kebersihan KAI dan KCI Mujenih sebagai bentuk Apresiasi Kejujuran Kementerian BUMN di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin, 13 Juli 2020. Kementerian BUMN memberikan apresiasi atas kejujuran kedua pegawai yang mengembalikan kantong plastik hitam berisi uang tunai Rp 500 juta yang ditemukan di salah satu gerbong KRL tujuan Jakarta - Bogor, Senin (6/7) lalu. ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir membeberkan alasan empat BUMN yang membutuhkan penyertaan modal negara atau PMN pada 2020. BUMN pertama adalah PT Permodalan Nasional Madani atau PNM.

    Menurutnya, PNM membutuhkan dana Rp 1,5 triliun untuk penyaluran program PNM Mekaar. "Yakni untuk disalurkan kepada sekitar 6,6 juta lebih nasabah Mekaar di tahun 2020 ini," kata Erick dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat komisi VI, Rabu, 15 Juli 2020.

    Menurutnya, pinjaman PNM Mekaar itu akan disalurkan kepada para pelaku UMKM, dengan kisaran nominal pinjaman antara Rp 4 juta hingga Rp 20 juta. Dengan pinjaman tanpa agunan itu, dia berharap para nasabah UMKM nantinya bisa bertahan dalam di tengah kondisi pandemi COVID-19.

    BUMN kedua, yaitu PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, yang memerlukan suntikan PMN mencapai sebesar Rp 6 triliun. Dana itu, kata Erick, akan digunakan untuk melaksanakan Program Ekonomi Nasional (PEN), dengan memberikan penjaminan kredit modal kerja baru bagi UMKM melalui Askrindo dan Jamkrindo.

    BUMN ketiga, yaitu PT ITDC yang butuh PNM sebesar Rp 500 miliar untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur dasar dan fasilitas penunjang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

    "Jadi selain PMN, ITDC ini dalam catatan kami juga mendapat pinjaman jangka panjang selama 32 tahun dengan bunga kompetitif, dari The Asian Infrastructure Investment Bank," kata dia.

    Selanjutnya, yang terakhir yaitu PT Hutama Karya yang butuh PMN Rp 7,5 triliun, untuk melanjutkan pembangunan proyek Jalan Tol Trans Sumatra. Adapun sebanyak Rp 4,3 triliun untuk ruas Pekanbaru-Padang atau seksi Pekanbaru-Pangkalan dan Rp 3,2 triliun sisanya untuk ruas Simpang Indralaya-Muara Enim.

    "Jadi dari kebutuhan itu penting sekali bagi kami untuk membangun pendukung aspek logistik, khususnya menjaga kesenjangan ekonomi di daerah lain, seperti di Sumatra. Jadi nantinya tidak hanya bertumpu di Jawa saja," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.