IHSG Diprediksi Tembus 5.500 di Akhir 2020

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tembus pada level 5.500 di akhir 2020. Pertimbangannya adalah kondisi ekonomi yang berangsur pulih baik secara global maupun nasional.

    “Target IHSG pada akhir tahun adalah 5.500, sementara untuk yield 10 year bond masih sekitar 7 persen sampai 7,2 persen. Alasannya memang ekonomi mulai membaik,” kata Jemmy dalam diskusi virtual, Selasa, 14 Juli 2020.

    Penguatan IHSG akan terjadi karena ditopang oleh investor dalam negeri. Sedangkan aliran dana yang masuk dari investor asing saat ini masih di bawah sebelum kondisi normal sebelumnya. Kendati begitu, dia optimistis di tahun depan saat kondisi membaik IHSG mulai bergerak rally dan investor asing mulai kembali lagi.

    Jemmy melihat bahwa ekonomi secara global akan pulih secara bertahap atau membentuk U-shape dimulai pada kuartal ketiga ini. Hal ini terlihat dari mulai meningkatnya aktivitas manufaktur beberapa negara Asia serta mulai pulihnya harga minyak meskipun masih disokong oleh permintaan yang terbatas.

    Dia optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup baik dan dari sisi pasar saham Indonesia menawarkan potensi imbal hasil cukup menarik bagi investor asing. "Di mana PE (Price to Earning) ratio rata-rata saat ini cukup murah di level 12,4 per 10 Juli 2020, ditambah komitmen BI untuk menjaga kestabilan moneter dan mata uang rupiah,” ujarnya.

    Pada kesempatan yang sama Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan pembukaan kembali perekonimian secara gradual memberikan optimisme.

    “Semester II-2020 diharapkan menjadi titik balik pemulihan ekonomi setelah mengalami penurunan yang dalam pada semester I, khususnya pada kuartal II-2020,” kata Ivan. Karena itu, dia memperkirakan jumlah investor yang pembelian reksa dana bisa meningkat pada kuartal III 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?