Pemerintah Dinilai Bingung Selesaikan Masalah Pandemi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    (kiri ke kanan) Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, Direktur Eksekutif INDEF Enny S. Hartati, dan Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan dalam diskusi Iluni UI di Kampus Salemba UI, Jakarta Pusat, 3 April 2018. TEMPO/Lani Diana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, menilai pemerintah masih kebingungan untuk menyelesaikan masalah pandemi corona. Sebab, dalam waktu yang lama, pemerintah dipandang hanya berkutat mempersoalkan prioritas penanganan antara kesehatan dan ekonomi.

    “Kita kebingunan mana yang harus dikerjakan, menyelamatkan ekonomi dulu atau apa. Hanya sibuk di tataran itu. Persoalannya yang kita hadapi ini real, bukan sekadar isu,” ujar Enny dalam diskusi bersama Smart FM, Sabtu, 11 Juli 2020.

    Enny pun mengkritik upaya-upaya pemerintah saat ini yang dinilainya belum menyentuh akar persoalan. Semestinya, menurut dia, pemerintah berfokus terhadap penyelesaian masalah pandemi sejak awal dan mencegah penyebaran wabah agar tidak meluas.

    Dengan begitu, persoalan-persoalan yang muncul karena pandemi seperti ekonomi hingga sosial bisa ditangani secara terstruktur. Di samping itu, Enny memandang langkah pemerintah yang memberikan stimulus berupa suntikan likuiditas belum terlampau efektif.

    “Seolah-olah dengan berusaha mengguyuri likuiditas, masalah akan selesai. Namun mereka lupa apa yang menyebabkan terganggunya likuiditas,” Enny menambahkan.

    Ia pun menyarankan sebaiknya pemerintah segera membuat terobosan untuk pemulihan ekonomi nasional dengan skema penggerak yang cocok. Misalnya, mendorong produktivitas UMKM yang acap menjadi penyelamat krisis. Sebab, dengan mendorong sektor UMKM, konsumsi di level rumah tangga bisa terjaga.

    Adapun cara untuk menggerakkan UMKM ialah melalui pembukaan akses pasar dan pemberian pendampingan secara intensif. “Saat ini ada UMKM mampu produksi, tapi enggak ada demand. Yang harus diselesaikan, bagaimana membuka akses pasar untuk meningkatkan demand,” ucap Enny.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.