Indef: Ekonomi Kuartal III 2020 Masih Belum Bisa Tumbuh Positif

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan uang negara pada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan uang negara pada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -  Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2020 belum bisa tumbuh positif, sejalan dengan penyebaran Covid-19 yang semakin meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan kasus positif baru. 

    "Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, sumbangannya 45 persen ke PDB, ketiga daerah tersebut didominasi sektor perdagangan. Sementara sektor ini masih terhambat, maka kondisi ekonomi belum akan membaik," katanya, Kamis 9 Juli 2020.

    Menurutnya, karena pembatasan sosial berskala besar menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi terhenti pada kuartal II 2020. Di sisi lain, penyaluran bantuan sosial juga masih rendah.

    Tauhid mengatakan realisasi belanja kementerian dan lembaga (K/L) pada semester I/2020 pun masih sangat rendah.

    Menurutnya, kendala penyerapan anggaran yang masih rendah adalah masalah regulasi. Misalnya proses pengadaan barang dan jasa di tengah pandemi yang masih mengharuskan adanya kegiatan fisik.

    Kemudian, tim di KL yang bekerja secara aktif di situasi bisa dikatakan hanya separuh, sehingga ada hambatan komunikasi dan menyebabkan kinerja menjadi terhambat.

    Kendala lainnya, berkaitan dengan data dan informasi, yang dinilai berperan penting di tengah situasi pandemi. Pada saat melakukan program yang sifatnya stimulus, data masih menjadi masalah, msialnya dalam penyaluran bansos dan stimulus UMKM, sehingga eksekusinya menjadi lambat.

    Karena itu, dia berpendapat wajar jika pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 diproyeksikan turun lebih dalam dari proyeksi sebelumnya.

    Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II/2020 diprediksi akan terkontraksi pada kisaran -3,5 persen hingga -5,1 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.