Semester II, Sri Mulyani: Belanja Negara Melonjak Jadi 1.306,7 T

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan uang negara pada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pemaparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. Rapat kerja tersebut beragenda mendengarkan penjelasan tentang PMK No. 70/PMK.05/2020 tentang penempatan uang negara pada bank umum dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan akan terjadi kenaikan belanja negara pada semester kedua tahun 2020. Pada paruh kedua tahun ini, negara diperkirakan akan menggelontorkan dana belanja hingga Rp 1.306,7 triliun.

    "Belanja negara akan terakselerasi karena seluruh menteri dan daerah akan meningkatkan belanja," ujar Sri Mulyani dalam rapat bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis, 9 Juli 2020.

    Adapun realisasi belanja negara semester I 2020 adalah Rp 668,5 triliun. Dengan demikian outlook belanja negara untuk keseluruhan tahun adalah Rp 1.975,2 triliun atau sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020. Angka tersebut tumbuh 32 persen dari realisasi belanja tahun lalu yang sebesar Rp 1.496,3 triliun.

    Belanja Kementerian dan Lembaga pada semester II 2020 diperkirakan sebesar Rp 486 triliun. Adapun realisasi semester I adalah Rp 350,4 triliun, Sehingga outlook keseluruhan tahun adalah Rp 836,4 triliun.

    Belanja tersebut akan disokong pelaksanaan dan penyelesaian berbagai kegiatan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Di sisi kesehatan, pemerintah akan menggenjot belanja berupa pembayaran insentif tenaga medis, belanja kesehatan, hingga perawatan pasien.

    Sementara itu, dari sisi perlindungan sosial, pemerintah akan merampungkan penyaluran berbagai program jaring pengaman sosial, seperti Program Keluarga Harapan, sembako, hingga bantuan sosial tunai.

    Adapun belanja non kementerian dan lembaga diprediksi mencapai Rp 820,7 triliun pada semester II 2020. Dengan realisasi semester I sebesar Rp 318,1 triliun, maka belanja non K/L untuk keseluruhan tahun bisa mencapai Rp 1.138,9 triliun.

    Belanja non-K/L pada semester II 2020 akan dipengaruhi kebijakan penanganan Covid-19, seperti subsidi bunga UMKM, imbal jasa penjaminan, hingga program Kartu Pra Kerja. Di samping itu, bunga utang diperkirakan meningkat sejalan dengan pelebaran defisit.

    Adapun belanja dalam rangka transfer ke daerah dan dana desa pada semester II diperkirakan sebesar Rp 363,5 triliun. Dengan realisasi TKDD pada semester I 2020 sebesar Rp 400,4 triliun, maka outlooknya adalah Rp 763,9 triliun untuk keseluruhan tahun.

    Realisasi TKDD semester II akan diakselerasi, termasuk anggaran untuk dukungan Pemerintah Daerah dalam rangka pemulihan ekonomi, melalui pelaksanaan cadangan DAK Fisik dan DID Tambahan untuk percepatan pemulihan ekonomi di daerah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.