Harga Apartemen Rp 26 Juta per Meter Persegi, Dampak ke Milenial?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sales menjelaskan pada pengunjung promo apartemen yang dipamerkan dalam acara Indonesia Property Expo di Hall A dan B Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, 3 Februari 2018. Harga properti yang ditawarkan dalam pameran ini bervariatif, mulai dari Rp 130 juta sampai Rp 5 miliar per unit. TEMPO/Fajar Januarta

    Sales menjelaskan pada pengunjung promo apartemen yang dipamerkan dalam acara Indonesia Property Expo di Hall A dan B Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, 3 Februari 2018. Harga properti yang ditawarkan dalam pameran ini bervariatif, mulai dari Rp 130 juta sampai Rp 5 miliar per unit. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Jaya, Indra Utama mengatakan masyarakat semakin terancam tidak memiliki hunian. Tidak hanya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), kelompok Masyarakat Berpenghasilan Menengah (MBM) dan milenial pun juga ikut terancam harga apartemen sudah terbilang tinggi.

    "Saat ini rata-rata harga apartemen, hunian vertikal sudah berada di harga Rp 26 juta per meter, ini sudah sangat sulit dijangkau," kata Indra dalam rapat bersama Komisi Perumahan DPR di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020.

    Ini adalah persoalan menahun yang masih terus terjadi. Hingga Maret 2019, angka kebutuhan rumah atau backlog masih mencapai 7,6 juta unit. Sementara setiap tahunnya, jumlah rumah yang dibangun tak pernah lebih dari 1 juta unit.

    Menurut Indra, situasi ini terjadi saat harga tanah dan material bangunan terus naik setiap tahun. Saat ini saja, kata dia, harga material bangunan untuk kelompok MBM juga sudah sama degan masyarakat menengah atas.

    Padahal seharusnya, Indra menyebut pemerintah bisa melakukan intervensi. Salah satunya mengatur harga material untuk MBM dan MBR. Selain itu, Indra menyebut pemerintah juga seharunya mengontrol harga tanah agar tidak terus naik.

    Sementara itu, survei Jakarta Property Institute (JPI) juga mencatat tak semua milenial yang memiliki keinginan untuk tinggal di apartemen bisa langsung membeli atau menyewanya. Sebab, harga apartemen yang terjangkau di Jakarta sudah sangat minim. Harga apartemen juga terus melejit dari waktu ke waktu.

    Berdasarkan hasil survei, 82 persen responden hanya memiliki kemampuan mencicil apartemen Rp 3 juta per bulan. Lebih spesifik, 54 persen ingin membayar Rp 1-3 juta dan 28 persen kemampuan membayarnya di bawah Rp 1 juta per bulan.

    Namun beda cerita dengan tawaran pengembang. Di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat misalnya. Harga apartemen dipatok Rp 380 juta hingga Rp 667 juta. Dengan harga jual tersebut, nilai cicilannya akan berada di kisaran Rp 3,8 juta - Rp 6,6 juta per bulan untuk tenor 15 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa Efek Buruk Asupan Gula Berlebih Selain Jadi Penyebab Diabetes dan Stroke

    Sudah banyak informasi ihwal efek buruk asupan gula berlebih. Kini ada satu penyakit lagi yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi gula berlebihan.