Tips Investasi di Masa Pandemi: Jangan Main di Sektor Agresif

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi investasi. Shutterstock

    Ilustrasi investasi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri diskartes.com, Andika Diskartes berbagi tips melakukan investasi di masa pandemi Covid-19. Ia menyarankan para investor tak bermain di sektor agresif.

    "Kalau sekarang kita jangan main di sektor agresif, seperti semua produk yang berhubungan dengan bisnis lumpuh. Baik supply dan demand," kata Andika ketika diwawancara Staf Ahli Menteri Keuangan Nufransa Wira Sakti dan diunggah di YouTube, Jumat, 3 Juli 2020.

    Andika menjelaskan secara umum ada dua tipe investor yaitu defensif dan agresif. Jika defensif, Andika yang juga financial advisor menyarankan untuk berinvestasi di instrumen deposito, obligasi, dan semacamnya yang lebih aman. Sedangkan investor agresif diarahkan ke saham.

    Meski begitu, Andika menyarankan investor pemula untuk tidak terlalu agresif berinvestasi di instrumen saham. "Sekarang ambience-nya saham lagi murah, padahal kita tidak tahu bottom-nya sampai seberapa. Kita ga tau akan terjadi second wave atau seperti apa. Kalau mereka masuk sekarang terus turun, trauma, bisa stress," ujarnya.

    Selain itu ia juga menyarankan para investor untuk selalu mengevaluasi kinerja investasinya. Hal tersebut dilakukan agar tetap sesuai profil dan fit balancing portofolio.

    Sayangnya, kata dia, hal ini jarang disampaikan ke investor yang baru memulai. "Jadi konsep yang terjadi: beli, diamkan, untung. Jatuhnya banyak sekali model-model investasi yang ternyata KO, terus trauma. Perlu ada rebalancing, biar terjaga komposisi investasinya," tuturnya.

    Andika juga mengingatkan, investasi hanya bisa dilakukan jika benar-benar memiliki uang dingin atau uang yang tidak digunakan. Sebelum berinvestasi, investor harus memastikan terlebih dahulu menyiapkan dana darurat atau dana cadangan.

    "Ini harus disiapkan dulu, enam kali dari spending. Kalau spending per bulan Rp 10 juta, berarti harus ada dana darurat Rp 60 juta," kata Andika.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.