Chatib Basri: Pasar Tradisional Lebih Cepat Pulih daripada Mal

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara sepeda motor melintas di dekat bilik disinfektan yang dipasang di pintu masuk Pasar Tradisional Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 5 Juni 2020. Pemerintah setempat mulai mempersiapkan sejumlah fasilitas pendukung guna penerapan tatanan normal baru menghadapi COVID-19 di pasar-pasar tradisional antara lain dengan menambah bilik disinfektan, cuci tangan di air mengalir, jaga jarak, dan kewajiban menggunakan masker baik bagi pedagang maupun pengunjung. ANTARA

    Pengendara sepeda motor melintas di dekat bilik disinfektan yang dipasang di pintu masuk Pasar Tradisional Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat, 5 Juni 2020. Pemerintah setempat mulai mempersiapkan sejumlah fasilitas pendukung guna penerapan tatanan normal baru menghadapi COVID-19 di pasar-pasar tradisional antara lain dengan menambah bilik disinfektan, cuci tangan di air mengalir, jaga jarak, dan kewajiban menggunakan masker baik bagi pedagang maupun pengunjung. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat masyarakat Indonesia harus berdiam diri di rumah. Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri pun menilai hal ini berdampak negatif bagi perekonomian secara keseluruhan.

    Menurut dia, kegiatan perekonomian terjadi karena adanya pertemuan antara pasar dan konsumen. Namun, karena pandemi, tidak ada lagi pertemuan sehingga menggerus sektor ekonomi.

    Dikutip dari keterangan resmi Indonesia Banking School (IBS), Chatib Basri menyebutkan pasar tradisional bisa cepat pulih dibandingkan mal dalam kondisi saat ini. "Orang pilih-pilih jika akan ke mal lagi karena masih punya tabungan," ujar Chatib Basri pada webinar Dampak Covid-19 terhadap Kondisi Perekonominan dan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia, yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School, Jumat 3 Juli 2020.

    Menurut Chatib Basri, hal ini pada akhirnya akan berdampak pada perekonomian. "Lama orang tahan untuk tetap stay di rumah tergantung seberapa banyak tabungan yang dimiliki. Jika punya tabungan, orang masih bisa menikmati kemewahan saat harus tinggal di rumah. Tapi buat yang tidak memiliki tabungan, dorongan untuk mencari penghasilan di luar rumah akan makin kuat," kata dia.

    Ketua IBS Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono menjelaskan tema webinar dipilih karena saat ini pandemi Covid-19 telah menimpa hampir semua negara, termasuk Indonesia. "Dampak dari penyebaran virus Corona terjadi di berbagai bidang, baik sektor riil, dunia usaha mikro, kecil dan menengah, sektor jasa keuangan, dan sebagainya," ujar Kusumaningtuti.

    Menurut Kusumaningtuti perekonomian telah dihantam pandemi dan memaksa setiap pihak melakukan penyesuaian."Perekonomian mayoritas membutuhkan penyesuaian di beberapa sektor misalnya transportasi, industri manufaktur, pariwisata, perbankan, termasuk perguruan tinggi," ujarnya.

     

    .


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.