Luhut Minta Ekspor Ikan dari Selat Batam Naik 100 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan diperiksa suhu tubuhnya sebelum rapat dengan Presiden Joko Widodo di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa 3 Maret 2020. Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi tamu maupun pejabat tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19 di lingkungan Istana Kepresidenan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan diperiksa suhu tubuhnya sebelum rapat dengan Presiden Joko Widodo di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa 3 Maret 2020. Pemeriksaan kondisi suhu tubuh bagi tamu maupun pejabat tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19 di lingkungan Istana Kepresidenan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengatakan ekspor ikan di kawasan Selat Batam harus meningkat dari sebelumnya 10 persen menjadi 100 persen. Permintaan itu ia sampaikan dalam kunjungannya ke kawasan pariwisata Pulau Bintan di Kepulauan Riau, Kamis, 2 Juli.

    "Di selatan Batam akan kami buat keramba-keramba ikan berkualitas tinggi sehingga bisa terus meningkatkan ekspor kita yang sekarang naik sekitar 10 persen, ya kalau bisa jadi 100 persen," ujar Luhut dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Juli 2020.

    Luhut menjelaskan, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membuat keramba-keramba di Selat Batam seperti yang sudah dibangun di Papua. Nantinya di Selat Batam tersebut, tutur Luhut, akan ada tiga titik persebaran Keramba.

    Upaya ini sekaligus untuk memperluas skala budidaya hasil laut seperti ikan hingga lobster di Tanah Air. Dengan begitu, target peningkatan ekspor bisa tercapai.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, dalam kunjungan bersama Luhut, mengakui Selat Batam mempunyai potensi hasil laut yang besar. Namun, untuk mengembangkan budidaya hasil laut tersebut, tutur dia, tak perlu tempat khusus yang terlalu luas.

    "Seperti bawal, kerapu, lobster adalah ikan-ikan yang bisa kita budidayakan sendiri dan permintaannya dari Singapura cukup besar. Yang kita butuhkan sekarang adalah memperbesar jumlah masyarakat yang melakukan budidayanya," tuturnya.

    Edhy mengimbuhkan, petani bisa memanfaatkan dana kredit usaha rakyat atau KUR yang berjumlah Rp 159 triliun untuk mengembangkan budidaaya ikan. Dana tersebut saat ini belum semuanya terserap.

    Selian itu, ia melanjutkan, KKP pun memiliki Badan Layanan Umum (BLU) yang akan memberikan usaha modal kelautan dan perikanan bagi para petani. Tota BLU ini mencapai Rp 1,3 triliun dengan bunga 3 persen.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.