AP I Catat Peningkatan Penumpang Terbesar di Bandara Makassar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel TNI AU bersama seekor anjing melakukan pengamanan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, 28 Juni 2016. Anjing bernama Betty ini memiliki kemampuan dalam melacak benda berbahaya seperti bom dan narkoba. TEMPO/Fahmi Ali

    Personel TNI AU bersama seekor anjing melakukan pengamanan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, 28 Juni 2016. Anjing bernama Betty ini memiliki kemampuan dalam melacak benda berbahaya seperti bom dan narkoba. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura I (Persero) mencatat pergerakan penumpang di 15 bandara milik perseroan naik setelah pemerintah memperlonggar aturan bepergian. Adapun bandara dengan peningkatan pergerakan paling tinggi ialah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar.

    "UPG (Bandara Sultan Hasanuddin) terbanyak per 26 Juni, yakni pergerakan datang 3.955 orang, berangkat 4.229 orang, sehingga totalnya 8.184 orang," tutur Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura I Handy Heryudhitiawan kepada Tempo, Ahad petang, 28 Juni 2020.

    Handy menjabarkan, secara keseluruhan, pergerakan penumpang pada hari yang sama di 15 bandara mencapai 31.586 orang. Angka itu terdiri atas 15.912 orang datang dan 15.674 orang berangkat.

    Dengan demikian selama 1 Januari hingga 26 Juni, Angkasa Pura I mencatatkan pergerakan penumpang sebesar 18.413.173 orang. Handy optimistis jumlah penumpang meningkat seiring dengan pemberlakuan Surat Edaran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 9 Tahun 2020.

    Beleid itu memperpanjang masa berlaku tes swab atau PCR dan rapid test dari semula 3-7 hari menjadi 14 hari. "Kami melihat bahwa hal tersebut tentu membawa kabar baik bagi penerbangan karena beberapa calon penumpang memandang validitas PCR/rapid test menjadi bahan pertimbangan sebelum melakukan perjalanan," tuturnya.

    Meski demikian, Handy memastikan perseroan tetap memperketat protokol kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk mencegah kurva penularan virus yang tergolong masih tinggi di Indonesia.

    Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi sebelumnya mengingatkan kebijakan pemerintah terkait pelonggaran syarat penumpang untuk bepergian di masa pandemi akan meningkatkan risiko penyebaran corona. "Risiko penularan virus ke penumpang lain semakin besar, tapi bisa diantisipasi dengan konsisten menerapkan protokol kesehatan," tutur Tulus.

    Tulus menuturkan, pelonggaran syarat di sektor transportasi akan berpotensi mendorong minat masyarakat melakukan perjalanan. Sejalan dengan itu, dia meminta operator makin ketat mematuhi aturan kesehatan dan keamanan yang diterbitkan oleh pemerintah.

    Protokol itu meliputi prinsip jaga jarak fisik, penggunaan masker, dan penyediaan sarana cuci tangan atau sanitizer. Bila ingin lebih aman, di dalam armada, ia menyarankan operator memasang partisi yang membatasi kontak langsung antar-penumpang.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.