Kinerja Asuransi Jiwa Premi Kuartal I 2020 Turun 4,9 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keluarga bahagia

    Ilustrasi keluarga bahagia

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon menjelaskan bahwa industri asuransi jiwa mengalami penurunan kinerja pada kuartal pertama tahun ini. Sejumlah indikator membukukan catatan negatif. 

    "Sulit untuk melakukan proyeksi [kinerja industri asuransi jiwa sepanjang 2020]. Yang jelas 2020 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan," ujar Budi kepada Bisnis, Jumat 26 Juni 2020.

    Berdasarkan catatan AAJI, industri asuransi jiwa membukukan premi Rp44,1 triliun pada kuartal I/2020. Jumlah tersebut menurun 4,9 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan capaian premi Rp46,4 triliun pada kuartal I/2019.

    Total premi bisnis baru pada kuartal I/2020 tercatat sebesar Rp25,9 triliun atau turun hingga 8,3 persen (yoy) dari kuartal I/2019 senilai Rp28,2 triliun. Adapun, premi lanjutan pada kuartal I/2020 senilai Rp18,18 triliun naik 0,3 persen (yoy) dari kuartal I/2020 senilai Rp18,13 triliun.

    ADVERTISEMENT

    Hasil investasi asuransi jiwa pada awal tahun ini tercatat anjlok. Pada kuartal I/2020, industri membukukan hasil investasi negatif Rp47,05 triliun, berbalik rugi dari kuartal I/2019 dengan hasil investasi Rp13,41 triliun.

    Selain itu, total aset industri pun mengalami penurunan 5 persen (yoy) senilai Rp509,6 triliun pada kuartal I/2020, turun dari Rp536,7 triliun pada kuartal I/2019.

    Budi menjelaskan bahwa meskipun pandemi Covid-19 terjadi beberapa pekan di penghujung kuartal I/2020, dampaknya begitu terasa bagi industri. Hal tersebut membuat AAJI memperkirakan bahwa penurunan kinerja bisa terjadi hingga akhir tahun ini.

    Budi menjelaskan bahwa perlambatan kinerja terjadi di seluruh lapisan industri. Hal tersebut membuat perusahaan-perusahaan asuransi jiwa harus menyiapkan strategi yang matang agar bisa menjaga dan mengoptimalkan bisnis pada masa pandemi ini.

    "Dampak pandemi ini hampir ke semua anggota AAJI, tidak memandang size perusahaannya," ujar Budi.

    Meskipun begitu, dia menilai bahwa pandemi cukup memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap pentingnya perlindungan diri. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah tertanggung asuransi, meskipun perolehan preminya menurun.

    AAJI mencatat jumlah tertanggung asuransi jiwa pada kuartal I/2020 mencapai 63,97 juta orang. Jumlah tersebut meningkat hingga 20,3 persen (yoy) dibandingkan dengan kuartal I/2019 sebanyak 53,17 juta orang.

    Pertumbuhan itu ditopang oleh melesatnya jumlah tertanggung asuransi kumpulan yang mencapai 46,5 juta orang pada kuartal I/2020, naik 30,2 persen (yoy) dari 35,74 juta orang pada kuartal I/2019. Adapun, jumlah tertanggung perorangan tumbuh 0,1 persen (yoy) pada kuartal I/2020 sebanyak 17,45 juta orang.

    Meskipun jumlah tertanggung meningkat, pertumbuhan total polis hanya tercatat sebesar 0,1 persen (yoy), yakni 17,08 juta polis pada kuartal I/2020 atau naik dari 17,06 juta polis pada kuartal I/2019.

    Jumlah polis asuransi jiwa kumpulan bahkan turun 13,2 persen (yoy) sebanyak 672.667 polis pada kuartal I/2020, dari 774.824 polis pada periode sebelumnya.

    "Meskipun jumlah tertanggung dan uang pertanggungan meningkat, angka total polis kumpulan mengalami penurunan. Ini mengindikasikan bahwa pandemi Covid-19 membuat perekonomian Indonesia mulai melambat, akibatnya terjadi penurunan kepemilikan polis baru dari sektor korporasi," ujar Budi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.