Lonjakan Covid-19 di AS Bayangi Pergerakan IHSG Pekan Depan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaDirektur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, memperkirakan sejumlah persoalan di global akan menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada pekan depan.

    Salah satunya, adalah adanya kekhawatiran akan lonjakan kasus Covid-19 di Amerika Serikat dan Jerman yang diikuti oleh lockdown. "Jika terjadi lockdown kembali maka pasar modal akan menghadapi lebih banyak risiko pelemahan di jangka pendek," ujar Hans kepada Tempo, Ahad, 28 Juni 2020.

    Hans mengatakan pelaku pasar merespon negatif kebijakan lockdown pada sektor bisnis di beberapa negara bagian di Amerika Serikat setelah terjadi lonjakan kasus infeksi Covid-19. Namun demikian, ia berpendapat lockdown parsial di negara bagian punya dampak lebih kecil ke ekonomi dibandingkan lockdown nasional yang dilakukan pada April-Mei lalu.

    Selain itu, sentimen global lainnya adalah data pengangguran tidak sebaik yang di harapkan yang mengonfirmasi prediksi Hans bahwa pembukaan ekonomi tidak mengembalikan daya beli.

    Malahan, hal tersebut mendorong pengusaha melakukan pemutusan hubungan kerja akibat lemahnya daya beli. "Pasar perlu konfirmasi kenaikan daya beli dan perbaikan data ekonomi sesudah pembukaan ekonomi," ujar Hans.

    Tak hanya itu, proyeksi IMF yang lebih jelek dari proyeksi sebelumnya, menurut Hans, menunjukan dunia akan memasuki periode resesi. Sehingga, perlu lebih banyak stimulus untuk mendorong ekonomi. Ia mengatakan saat ini pasar menanti stimulus besar-besaran dari Uni Eropa yang diperkirakan di sepakati bulan Juli.

    Persoalan lain di kancah global, tutur Hans, adalah potensi perang dagang meningkat setelah para pejabat Cina memperingatkan bahwa campur tangan Amerika Serikat di Hong Kong dan Taiwan dapat membuat Beijing mundur dari komitmennya untuk membeli barang pertanian AS.

    "Kami melihat ini merupakan strategi tawar menawar antar Negara untuk mendapatkan keuntungan perdagangan. Tetapi berita ini negatif bagi pasar keuangan dunia," tutur Hans.

    Sementara itu, sentimen dalam negeri yang memengaruhi pergerakan saham pekan depan antara lain IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi -0,3 persen dari dari sebelumnya 0,5 persen. Hans mengatakan dampak Covid 19 membuat proyeksi Ekonomi Indonesia menurun, tetapi jauh lebih baik dari Negara-negara lain di dunia.

    Selain itu, kabar baik lainnya, tutur Hans, pemerintah akan menempatkan dana sebesar Rp 30 triliun di Bank Himbara yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia. "Ini merupakan sentimen positif karena memperkuat perbankan nasional," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan RUU Perlindungan Data Pribadi

    Pembahasan RUU Perlindugan Data Pribadi sedianya sudah berjalan sejak tahun 2019. Namun sampai awal Juli 2020, pembahasan belum kunjung berakhir.