Cerita Ahok Bentuk Tim Transformer di Pertamina

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat menghadiri peluncuran bukunya dalam acara ngobrol@Tempo di kantor Redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, 17 Februari 2020. Ahok meluncurkan buku yang berjudul

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat menghadiri peluncuran bukunya dalam acara ngobrol@Tempo di kantor Redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, 17 Februari 2020. Ahok meluncurkan buku yang berjudul "Panggil Saya BTP: Perjalanan Psikologi Ahok Selama di Mako Brimob". TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, JakartaKomisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menceritakan pengalamannya menempati posisi pucuk di perusahaan minyak negara. Selama tujuh bulan menjabat, ia menyebut telah membentuk Tim Transformer untuk mengoptimalkan potensi pegawai-pegawai muda di perusahaan.

    "Kami bentuk Tim Transformer. Saya meyakinkan anak-anak muda lulusan terbaik untuk gabung di Tim Transformer di dewan komisaris," tutur Ahok dalam wawancara khusus bersama Andy Noya dalam KickAndy Show, Sabtu petang, 27 Juni 2020.

    Ahok menjelaskan, tim tersebut merupakan jalan untuk mendorong pegawai muda potensial menempati posisi strategis di perusahaan. Upaya ini sekaligus menjadi solusi dari persoalan kenaikan pangkat yang menjadi kultur lama perusahaan.

    Menurut Ahok, pada masa lalu, posisi petinggi Pertamina seperti Senior Vice President harus dijabat oleh pegawai yang pengalaman kerjanya lebih dari 20 tahun. Pengangkatan itu pun dilakukan sesuai dengan golongan karyawan.

    Dengan tim ini, Ahok mengatakan anak-anak muda usia 30-40 tahunan yang memiliki potensi bisa menempati posisi strategis dengan jalan cepat. Bahkan, jabatan tinggi bisa diraih dengan lelang jabatan. "Sekarang anak muda doktor-doktor yang usianya 30-40 kurang lebih ada 60 persen. Masa depan Pertamina ada, asal mereka mau naik."

    Di samping bercerita soal Tim Transformer, Ahok blak-blakan soal niatnya menerima tawaran menjadi Komisaris Utama perusahaan. Ia menyatakan memiliki dua alasan.

    Pertama, Ahok ingin membantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengurangi defisit neraca berjalan lewat kinerja perusahaan pelat merah. Sejalan dengan itu, ia ingin membantu mantan pasangan politiknya di DKI Jakarta lalu untuk mengawasi aset negara yang jumlahnya jumbo.

    "Pertamina itu revenue (pendapatannya) Rp 800 triliun. Hampir sepertiga APBN. Jadi harus diawasi dengan baik, apalagi KPI direksi administratif semua," ucap Ahok.

    Alasan kedua, Ahok ingin menigkatkan portofolionya. "Saya enggak pernah kerja di perusahaan yang begitu besar. Tiba-tiba dikasih kesempatan menjadi chairman," tuturnya.

    Menurut Ahok, kesempatan ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kendati memperoleh sejumlah penolakan di awal masa pengangkatannya sebagai bos Pertamina, ia menyatakan persoalan itu sudah biasa dihadapi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.