Kementerian PUPR Berencana Bangun Jalan Tol Trans Jawa - Bali

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan yang didominasi pemudik melintas di Jalan Tol Trans Jawa Semarang-Solo km 437, Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Juni 2019. ANTARA

    Kendaraan yang didominasi pemudik melintas di Jalan Tol Trans Jawa Semarang-Solo km 437, Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Juni 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjelaskan soal kelanjutan proyek jalan Tol Trans Jawa hingga ke Bali. Menurut Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra Saleh Atmawidjaja, Kementerian PUPR belum berencana membangun jalan tol dari Banyumangi hingga ke Bali.

    "Kami belum punya rencana sampai sekarang untuk membangun jalan tol dari Ketapang, Banyuwangi Jawa Timur ke Gilimanuk, Bali, belum ada ke arah sana. Dan belum ada minat dari investor untuk membangun itu, karena pasti hal tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang dan juga biaya yang sangat besar," ujar Endra saat dihubungi di Jakarta, Jumat, 26 Juni 2020.

    Kementerian PUPR, belum berencana membangun jembatan yang menghubungkan Jawa dan Bali. Tetapi pergerakan orang dan barang, terutama wisatawan yang akan masuk ke Bali difasilitasi oleh penyeberangan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan tol dari Pelabuhan Gilimanuk hingga Kota Denpasar dan kawasan Sarbagita, Bali.

    Hal tersebut sama dengan kalau berbicara mengenai bagaimana Pulau Jawa dikoneksikan dengan Pulau Sumatera. Dari Pelabuhan Merak menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni itu tetap menggunakan kapal feri.

    Kapal ferinya diperbanyak, pelabuhan dimodernisasi kemudian sistem pelayanannya dipermudah, sehingga masyarakat yang menggunakan kendaraan pun tidak mengalami antrean baik di Merak maupun Bakauheni. Jadi nanti di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali pun demikian.

    "Jadi ini yang dimaksud oleh bapak Presiden Joko Widodo terkait konektivitas atau tol laut. Tol laut itu bukan kita berarti membangun jalan tol di atas Selat Bali atau menghubungkan Pulau Jawa dan Bali dalam pengertian fisik, bukan! Karena tetap konektivitas Jawa dan Bali menggunakan kapal feri, namun kapal dan pelabuhannya yang dimodernisasi," kata Endra.

    Untuk mewujudkan hal tersebut, maka jalan tol akan dimodernisasi, juga pelabuhan serta sistem layanan penyeberangan. Modernisasi pelabuhan merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan, namun ini merupakan satu kesatuan sistem konektivitas darat dan laut. "Karena yang akan masuk nantinya diharapkan adalah wisatawan," ujar Endra.

    Lebih lanjut, ia mengatakan pihaknya lebih berkonsentrasi untuk membangun jalan tol dari Gilimanuk sampai dengan Mengwi yang total panjangnya kira-kira 96 km.

    Selain itu Banyuwangi sendiri merupakan destinasi wisata yang terus mengalami perkembangan dan peningkatan, mengingat wisatawan sudah tertarik dengan Banyuwangi.

    Dengan keberadaan sisa jalan Tol Trans Jawa sekitar 150 km yang perlu dibangun lagi dari Probolinggo hingga ke Banyuwangi ini, kata dia, dapat dibayangkan kalau ada pergerakan orang sampai ke Banyuwangi maka mereka mungkin akan tertarik untuk melanjutkan perjalanan ke Bali melalui pelabuhan penyeberangan yang modern, lalu melanjutkan perjalanan dari Gilimanuk dengan jalan tol ke daerah-daerah lainnya di Bali.

    "Dengan demikian difasilitasi pergerakan orang, barang, turis dan logistik dari Jawa ke Bali. Tinggal sekarang, ketika konektivitas darat di Jawa sudah terhubung kemudian di Bali-nya belum terhubung maka konektivitas tersebut tidak akan terwujud. Jadi ide ini adalah kesinambungan dari modernisasi jalan dalam rangka pengembangan wilayah" kata Endra.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.