Industri Makanan Minuman Antisipasi Kelangkaan Bahan Baku

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman semester pertama tidak berbeda jauh dengan capaian triwulan pertama sebesar 3,9 persen. Ia berharap sepanjang tahun ini pertumbuhan industri bisa terkejar 4 hingga 5 persen.

    "Kami berharap pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diharapkan mampu mendorong konsumsi masyarakat," ujar Adhi kepada Tempo, Rabu 24 Juni 2020.

    Selain pelonggaran PSBB, Adhi berharap rangkaian program bantuan pemerintah mampu mendorong daya beli masyarakat seperti kartu pra kerja, bantuan sosial, insentif fiskal, dan pajak. Untuk bansos, ia berharap diberikan dalam bentuk uang tunai ketimbang paket sembako agar mampu mendorong ekosistem ekonomi karena ada uang yang berputar terhadap industri, baik ritel, distributor, pasar, dan lainnya.

    Adapun ketersediaan bahan baku, Adhi mengatakan hingga saat ini pasokannya masih aman. Namun ada beberapa bahan baku yang mesti diwaspadai seperti gula, garam, hingga susu untuk bahan baku pada semester kedua nanti. Menurut dia, pemerintah mesti waspada jangan sampai ada keterlambatan pemberian izin.

    "Sehingga, apabila ada kendala, kami bisa segera antisipasi dengan mencari pasokan dari negara lain, " tutur Adhi.

    Meski begitu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan daya beli masyarakat masih relatif rendah untuk mendongkrak konsumsi masyarakat hingga penghujung tahun. Selama tingkat konsumsi dan daya beli yang masih tertekan, Shinta berujar masih sulit membuat proyeksi pertumbuhan kinerja ekonomi yang juga bergantung pada penciptaan lapangan kerja.

    Ia berujar pemulihan konsumsi masyarakat sangat tergantung pada seberapa cepat pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan sepanjang krisis Covid-19. Kalau penciptaan lapangan kerja ternyata lambat sepanjang pada semester kedua, kemungkinan besar sulit mendorong pertumbuhan industri mamin lebih dari 5 peraen pada 2020.

    Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Lerindustrian Abdul Rochim mengatakan biasanya momen Ramadan-Lebaran, permintaan industri makanan-minuman naik hingga 30 persen dibandingkan bulan-bulan lainnya. Namun, periode kali ini pertumbuhan tersebut nyaris tidak ada. Menurut dia, hanya ada beberapa produk yang mengalami kenaikan permintaan seperti pengalengan ikan dan mie instan yang terdongkrak penyaluran bansos.

    Menurut Rochim, agenda pariwisata menjadi salah satu cara yang bisa diupayakan untuk mendorong permintaan. Pariwisata, ujar Rochim, merupakan salah satu saluran pemasaran produk di samping sudah mulai adanya pembukaan pusat belanja atau supermarket. Dalam waktu dekat, Rochim mengatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) soal peluang agenda akhir tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.