IMF Proyeksi Ekonomi Global Tahun Ini Tumbuh Minus 4,9 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo IMF. wikipedia.org

    Logo IMF. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau IMF memproyeksikan perekonomian global bakal terkontraksi atau tumbuh minus 4,9 persen pada tahun 2020 atau 1,9 poin persen di bawah perkiraan sebelumnya pada bulan April. Pemulihan yang lambat baru akan dimulai tahun 2021 dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

    Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath mengungkapkan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global ini di dorong oleh ketidakpastian yang tinggi seputar penyebaran virus dan upaya pemulihan perekonomian. “Kabar baik mengenai vaksin dan perawatan Covid-19 serta dukungan kebijakan tambahan dapat mengarah pada dimulainya kembali kegiatan ekonomi yang lebih cepat,” ucapnya seperti dikutip dari laporan World Economic Forum bulan Juni 2020, Kamis, 25 Juni 2020. 

    Meski begitu, IMF juga mewaspadai ada gelombang infeksi lanjutan yang dapat membalikkan peningkatan mobilitas dan pengeluaran, dan dengan cepat memperketat kondisi keuangan serta memicu kesulitan utang. 

    Krisis perekonomian global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini pun menghambat prospek pemulihan untuk ekonomi yang bergantung pada ekspor dan membahayakan prospek konvergensi pendapatan antara negara berkembang dan maju.

    Lebih jauh IMF menyebutkan upaya pemulihan perekonomian dari jurang resesi saat ini adalah yang terburuk sejak the Great Depression. Pasalnya upaya pemulihan ekonomipenuh ketidakpastian akibat minimnya solusi medis untuk menekan penyebaran virus Corona atau Covid-19.

    Dalam laporan World Economic Forum bulan Juni 2020 itu dipaparkan dalam periode yang disebut sebagai Great Lockdown ini, IMF memproyeksikan resesi yang lebih dalam pada tahun 2020 dan pemulihan yang lebih lambat pada tahun 2021.

    IMF memproyeksikan kontraksi pertumbuhan ekonomi di negara maju dapat mencapai 8 persen, sedangkan di negara berkembang dan emerging markets mencapai 3 persen. Adapun lebih dari 95 persen negara diproyeksikan memiliki pertumbuhan pendapatan per kapita negatif pada tahun 2020.

    Ketika negara-negara kembali membuka perekonomian, peningkatan perekonomian berjalan tidak merata. Di satu sisi, IMF memperkirakan ada lonjakan pengeluaran di beberapa sektor seperti ritel.

    Di sisi lain, sektor layanan seperti perhotelan, perjalanan, dan pariwisata masih akan tertekan. Negara-negara yang sangat bergantung pada sektor-sektor tersebut kemungkinan akan sangat terpengaruh untuk jangka waktu yang lama.

    Sementara itu, pasar tenaga kerja sangat terpukul pandemi ini, khususnya bagi pekerja berpenghasilan rendah dan semi-terampil yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Dengan kegiatan di sektor padat karya seperti pariwisata dan perhotelan diperkirakan akan tertekan, pemulihan penuh di pasar tenaga kerja mungkin memakan waktu cukup lama, memperburuk ketimpangan pendapatan dan mendorong tingkat kemiskinan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?