Kembali Terbang, AirAsia Sesuaikan Cara Pemesanan Makanan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat A330-900 AirAsia X

    Pesawat A330-900 AirAsia X

    TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai AirAsia Indonesia menyesuaikan layanan pemesanan makanan selama penerbangan (inflight meals) menyusul pengoperasian kembali penerbangan berjadwalnya pekan lalu. Hal ini dilakukan supaya santapan yang dihidangkan sesuai dengan standar kebersihan makanan dan minuman.

    Direktur Utama AirAsia Indonesia Veranita Yosephine Sinaga mengatakan para penumpang cukup memesan makanan dan minuman selama penerbangan yang diinginkan di situs airasia.com. Cara lain pemesanan makanan dan minuman adalah dengan aplikasi seluler AirAsia melalui Pembelian Saya atau My Bookings setidaknya 24 jam sebelum waktu penerbangan.

    Penerapan ini selaras dengan protokol keselamatan selama penerbangan terkini yang berlaku di Tanah Air. "Guna memungkinkan tamu untuk tetap dapat menikmati pengalaman kuliner di ketinggian 30.000 kaki dengan prosedur yang aman dan terjamin,” kata Veranita melalui siaran pers, Selasa, 23 Juni 2020.

    Vera menjelaskan bahwa industri penerbangan memang dituntut untuk dapat beradaptasi di era New Normal. Penyesuaian penting dilakukan dengan hanya memperkenankan pemesanan makanan dan minuman secara daring sebelum waktu penerbangan (pre-book) dan pesanan akan disajikan pada saat penerbangan.

    Dalam layanan makanan selama proses adaptasi normal baru diproduksi dan dikemas dengan standar higienis serta mengikuti persyaratan keamanan pangan yang ketat. Seluruh staf produksi makanan juga selalu dipantau sesuai protokol kesehatan yang berlaku.

    Awak kabin yang bertugas menangani inflight meals pun dilengkapi dengan alat perlindungan diri untuk menjamin kebersihan makanan dan minuman yang dipesan hingga disuguhkan di hadapan penumpang pesawat

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.