Pandemi Covid-19, Saatnya Berinvestasi Properti

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) melaporkan hasil pencapaian kinerja keuangan tahun 2019 di tengah perlambatan yang terjadi di industri properti nasional.

    Pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) melaporkan hasil pencapaian kinerja keuangan tahun 2019 di tengah perlambatan yang terjadi di industri properti nasional.

    TEMPO.CO, Jakarta - Investor harus selektif untuk menanamkan modalnya di tengah pandemi virus Corona ini. Salah satu investasi yang dinilai bisa menjadi pilihan pemodal adalah sektor properti, terutama bagi mereka yang memang sudah melakukan persiapan dengan matang.

    Senior Director Office Service Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo mengatakan, saat ini memang momentum yang tepat bagi investor untuk menjadi buyers/tenant market. Sebab, posisi tawar pembeli lebih besar daripada penjual.

    Aset properti perkantoran, menurut Bagus adalah pilihan yang menarik untuk dijadikan investasi meskipun pasarnya lesu belakangan ini. “Jadi sekarang ini orang yang sudah punya duit, kalau mau investasi justru timing-nya sekarang. Karena sekarang ada ada pihak-pihak yang perlu menjual propertinya karena ada kebutuhan. Itu kesempatan buat pembeli, ketika nanti 2024-2025 perekonomian sudah baik, harganya bisa naik lagi,” ungkapnya kepada Bisnis.com, Senin 22 Juni 2020.

    Menurut Bagus, pemilik properti perkantoran saat ini banyak yang tengah mengejar target keterisian minimal 70 persen sehingga melepasnya dengan harga rendah. Harga diskon ini menjadi kesempatan bagi tenant atau investor untuk berinvestasi.

    Adapun untuk pengembang yang masih punya portofolio properti perkantoran untuk dijual atau disewakan, Bagus menyebut ada dua opsi. Pertama, pemilik properti perkantoran bisa memberikan harga sewa yang lebih fleksibel atau memberikan insentif bayar sewa kepada tenant. Kedua, harus bekerja sama dengan operator ruang kerja fleksibel.

    “Masalahnya di Indonesia pangsa antara perusahaan multinasional dan startup yang mengisi coworking space masih 20:80 persen, belum lagi kantor yang ada belum boleh full capacity setelah PSBB, jadi belum tentu bisa survive juga,” ujarnya. Hal ini berbeda dengan kondisi di negara lain seperti Jepang dan Cina, yang  setelah lockdown kantornya tetap berkapasitas penuh.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan RUU Perlindungan Data Pribadi

    Pembahasan RUU Perlindugan Data Pribadi sedianya sudah berjalan sejak tahun 2019. Namun sampai awal Juli 2020, pembahasan belum kunjung berakhir.