Pendiri Yosugi Group Ungkap Cara Naikkan Omset di Masa Pandemi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chariman PT. Yoshugi Media Group yang jago berjualan lewat Facebook

    Chariman PT. Yoshugi Media Group yang jago berjualan lewat Facebook

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Yosugi Group, Yoyok Rubiantono berbagi tips membuat perusahaan survive di tengah pandemi Covid-19. Dia mengaku tetap memiliki omset untuk menggaji sekitar 200 karyawannya di berbagai negara.

    Yoyok mengungkap cara membuat omset naik hingga empat kali lipat dari budget iklan per bulan. "Namun saat Pandemi semua turun, semua tiarap, semua menahan diri, kemudian kami menurun, namun tidak nol. Kami lakukan langkah-langkah agar bisa survive," kata Yoyok saat diskusi bersama Tempo pada Rabu malam, 18 Juni 2020.

    Langkah pertama, kata dia, membuat daftar data pelanggan perusahaan yang sebanyak puluhan hingga ratusan ribu.

    "Kalau iklan itu biayanya jadi mahal biaya operasionalnya. Kami coba mengurangi iklan dan melist data base costumer yang kita miliki untuk menawarkan produk kami," ujarnya.

    Dia mencontohkan saat menerapkan hal itu untuk memasarkan brand diet, Amoorea. Saat pemasaran di masa pandemi, dia memberikan costumers berbagai macam benefit, diskon, dan produk-produk promo.

    "Yang penting bahasanya laku. Yang penting HPP (harga pokok penjualan) jalan, stok tidak mati, gitu aja. Lalu kami bisa profit dari situ," kata dia.

    Selama dua minggu awal, perusahaan mulai belajar melihat kembalo iklan-iklan apakah bisa jalani atau tidak. Satu minggu pertama Yoyok dan tim fokus kepada pelanggan. Kemudian satu minggu berikutnya dia mulai belajar mengenali behavior costumer yang baru.

    Dia mencontohkan membuat orang yang membeli percaya dengan pruduk itu. Misalnya, menyanpaikan produk dengan baik bahwa itu tidak akan membuat kontaminasi virus Corona.

    Kemudian perusahaan juga menyesuaikan harga supaya affordable buat costumers.

    "Ketika menjual produk seharganya Rp 299 ribu, tapi kami yakin sebenarnya costumer tetep ingin beli tapi dia ingin dengan skala yang lbh murah misal jadi Rp 199 ribu, jadi kami tidak menurunkan harga, tapi menciptakan package yang lebih kecil, jadi ketemu Rp 200 ribu, kami tulis Rp 199 ribu jadi kesannya Rp 100 ribu," ujar pria yang dijuluki raja iklan di facebook ini.

    Yoyok dikenal sebagai “anak emas” Facebook Indonesia karena setiap hari dia berjualan di Facebook dengan bujet iklan Rp 1 miliar per hari pada akhir 2018. Sebulan berarti bisa Rp 25 miliar.

    Omzetnya itu, berawal saat menjual panci ke seluruh dunia. Dia menekuni bisnis dengan Facebook ini sudah sekitar tujuh tahun.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.