Kapan Waktu Puncak Mobilisasi Penumpang KRL Saat PSBB Transisi?

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota TNI memberikan imbauan pendisiplinan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 kepada penumpang KRL menjelang pemberlakuan aturan new normal, di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2020. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Anggota TNI memberikan imbauan pendisiplinan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 kepada penumpang KRL menjelang pemberlakuan aturan new normal, di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2020. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan memetakan waktu terjadinya puncak mobilisasi penumpang kereta rel listrik (KRL) di masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB transisi berdasarkan hasil evaluasi selama sepekan. Puncak tersebut umumnya terjadi saat pagi dan sore, yakni kala masyarakat pergi maupun pulang bekerja.

    "Volume penumpang selama seminggu terkonsentrasi di jam 06.00-07.00 WIB pada pagi hari," ujar Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dalam diskusi yang digelar secara virtual, Sabtu, 13 Juni 2020.

    Sedangkan pada saat sore hari, antrean penumpang umumnya melonjak pada pukul 16.00-17.00 WIB. Sementara itu, berdasarkan harinya, pergerakan penumpang paling tinggi tercatat pada awal pekan atau Senin.

    Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah penumpang KRL pada Senin, 8 Juni, pukul 06.00-07.00 WIB mencapai lebih dari 30 ribu orang. Sedangkan di jam yang sama sehari setelahnya, total penumpang tercatat di bawah angka 30 ribu.

    Selanjutnya pada jam sibuk sore hari, yakni pukul 16.00-17.00 WIB, rata-rata dalam sepekan kemarin jumlah penumpang melampaui angka 33 ribu, bahkan hampir menyentuh 35 ribu. Kemudian, waktu paling landai terjadi pada pukul 11.00-12.00 WIB dengan jumlah penumpang berkisar di bawah 11 ribu orang dan pukul 21.00 WIB dengan jumlah penumpang di bawah 5.000 orang.

    Zulfikri mengatakan semestinya, penumpang bisa memanfaatkan pergerakan di jam-jam landai agar puncak antrean dapat terurai. "Kami mohon masyarakat menghindari perjalanan pagi atau sore. Kalau terpaksa, dapat menggunakan moda transportasi lainnya," ucap dia.

    Saat ini, pemerintah masih menerapkan pembatasan kapasitas penumpang di dalam KRL maksimal 45 persen. Kuota itu belum ditingkatkan lantaran pertimbangan keamanan.

    Adapun Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartyanto memprediksi lonjakan penumpang KRL masih akan terus terjadi, utamanya pada Senin lusa, 15 Juni. Musababnya pada hari itu, sejumlah instansi pemerintah dan kantor-kantor swasta telah menerapkan kebijakan bekerja dari kantor atau work from office bagi karyawannya.

    "Ini adalah hari pertama beberapa instansi pemerintah dan swasta menerapkan WFO. Artinya, pada tanggal itu akan ada penambahan jumlah penumpang KRL yang signifikan," tuturnya pada kesempatan yang sama.

    Karena itu, Didiek menyatakan perlu ada dukungan regulator untuk mengatur agar suplai dan demand terjaga sehingga penumpang tidak menumpuk pada satu waktu. Ia juga mengimbau agar pengguna KRL terus mengikuti protokol kesehatan sesuai dengan yang disyaratkan pemerintah. Misalnya menggunakan masker, memakai baju lengan panjang, hingga membawa sanitizer dan mencuci tangan sebelum naik ke kereta.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.