KRL Penuh, Kemenhub Ungkap Alasan Tak Naikkan Kapasitas

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memasang tali pembatas antrean penumpang kereta tujuan Jakarta/Tanah Abang di pintu stasiun Lenteng Agung, Jakarta, Senin pagi, 8 Juni 2020. TEMPO/Charisma Adristy

    Petugas memasang tali pembatas antrean penumpang kereta tujuan Jakarta/Tanah Abang di pintu stasiun Lenteng Agung, Jakarta, Senin pagi, 8 Juni 2020. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengungkapkan alasan tidak menaikkan kapasitas dari kereta rel listrik (KRL) yang kondisinya tetap penuh meski sudah dibatasi dalam masa normal baru ini.

    “Kapasitas kami tidak berani meningkatkan. Banyak yang minta tapi sudah diskusi dengan KAI dan pakar risiko, angkutan KRL cukup tinggi karena banyaknya penumpang, strategi yang bisa dilakukan adalah mengatur antrean,” kata Zulfikri dalam diskusi virtual yang bertajuk “Kolaborasi untuk Adaptasi Kebiasaan Baru Sektor Transportasi” di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2020.

    Ia menjelaskan KRL setiap harinya sudah mengangkut satu juta penumpang lebih dalam kondisi normal dan hal itu berisiko terhadap keselamatan jika semakin ditambah kapasitasnya.

    “Saat ‘demand’ (permintaan) jauh melebih kapasitas tidak hanya ‘supply’ (ketersediaan) yang ditangani. KRL sudah tidak bisa (ditambah kapasitas) lagi dari sisi keselamatan. ,” katanya.

    Karena itu, menurut Zulikri, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memperpanjang jam operasional, namun serta mengatur di stasiun-stasiun yang terbilang padat, seperti Stasiun Bogor.

    “Oleh karenanya kami koordinasi dari sisi perkeretaapian, dari sisi operasi maupun melakukan rekayasa penambahan kereta dengan menambah waktu operasi dari jam 16 WIB sampai malam. Ini menambah kapasitas selama PSBB 740 kereta sekarang hampir 940 kereta per hari dioperasikan,” katanya.

    Peralihan dari moda kereta ke bus juga dibantu oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) agar antrean bisa diminimalisasi.

    Vice President Corporate Communications PT Kereta Commuter Indonesia Anne Purba dalam keterangannya sebelumnya mengatakan antrean terjadi karena banyak masyarakat yang sudah kembali bekerja, namun tampak tidak ada pengaturan dan pembedaan jam kerja dibanding masa sebelum Covid-19.

    “Seluruhnya masih diminta untuk masuk kerja pada jam 8 hingga jam 9 pagi, dan pulang kerja pada jam 4 atau jam 5 sore. Pengaturan jam kerja ini sangat penting terutama bagi mereka yang menggunakan transportasi publik pada masa PSBB transisi ini, karena pembatasan dari segi jam operasional maupun kapasitas pengguna masih berlaku,” ujarnya.

    Untuk KRL saat ini berlaku pembatasan pengguna sejumlah 35 – 40 persen dari kapasitas, atau sekitar 74 pengguna per kereta. Pembatasan ini ada agar terjaga jarak aman di antara pengguna di dalam KRL.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.