Bisnis Telkomsel Tumbuh Stagnan Selama Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Telkomsel rilis game mobile Kolak Express 3. Kredit: HO/Telkomsel

    Telkomsel rilis game mobile Kolak Express 3. Kredit: HO/Telkomsel

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertumbuhan bisnis PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel tergolong stagnan bahkan negatif selama masa pandemi virus corona. Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro mengatakan persoalan ini terjadi lantaran adanya tekanan dari penjualan di segmen pasar level bawah.

    "Ada pergeseran pembelian saat PSBB diberlakukan 1,5-2 bulan. Sebab, pelanggan level bawah yang biasanya sebulan beli di bawah harga Rp 50 ribu mereka sudah kesulitan untuk membeli paket dan tidak sesering biasanya," ujar Setyanto dalam diskusi bertajuk Industri Telekomunikasi Menyambut Normal Baru bersama Tempo yang dihelat melalui saluran virtual, Kamis, 11 Juni 2020.

    Setyanto menjelaskan, kondisi tersebut membuat penjualan di segmen bawah menurun. Di saat yang sama, ia mengakui sebenarnya penjualan di segmen atas meningkat.

    Namun, peningkatan tersebut tak sebanding dengan tekanan dari penurunan daya beli untuk segmen pelanggan bawah. "Jadi ini overall membuat revenue kami relatif flat bahkan cenderung negatif karena terjadi pergeseran," ucapnya.

    Sebagai upaya untuk meningkatkan konsumsi, perseroan pun akhirnya harus memberikan layanan penambahan kuota dengan harga tetap. Adapun selama pandemi corona, Setyanto menerangkan sejatinya trafik pelanggan secara keseluruhan mengalami kenaikan sampai 13 persen.

    Trafik paling tinggi penggunaan layanan terjadi di area perumahan dengan peningkatan sampai 20 persen. Sedangkan pada hari-hari normal, trafik tertinggi ummnya terjadi di wilayah perkantoran.  "Adanya pergeseran peningkatan trafik membuat kami mau tidak mau ikut menyesuaikan. Kami berusaha menjaga level kualitas layanan," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.