Kenaikan Harga Bawang Merah Diprediksi Berlanjut sampai Juli

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petani saat memanen bawang merah, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini  mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram. TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah petani saat memanen bawang merah, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak April hingga Juni tahun ini, harga bawang merah masih tinggi. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga rata-rata bawang merah secara nasional masih menembus Rp57.350 per kilogram. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri bahkan mengatakan harga tertinggi bisa mencapai Rp63.000 per kilogram.

    "Ini memang agak sulit karena pasokannya tidak normal seperti biasanya karena produksinya tidak banyak. Harga bibit tinggi sehingga pasokannya juga terbatas," tutur Mansuri kepada Tempo, Rabu 10 Juni 2020.

    Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari mengatakan tingginya harga bawang merah terjadi karena pasokan yang terbatas. Keterbatasan pasokan terjadi karena ada pergeseran musim tanam sejak akhir tahun lalu. Musim hujan yang diprediksi Oktober tahun lalu, bergeser hingga Desember. Hal ini, kata Juwari, menyebabkan persediaan benih berkurang akibat kadaluarsa atau rusak yang berujung pada luas tanam ikut berkurang.

    "Saat luas tanam berkurang, petani beralih menanam padi yang kebetulan sudah masuk musim tanam. Mestinya Desember-Januari itu panen, tapi justru masih tanam," tutur Juwari.

    Tingginya harga bawang merah juga membuat petani menjual seluruh hasil panennya, tanpa menyisihkan 25 persen hasilnya untuk jadi benih pada musim tanam Januari lalu. Ditambah lagi, hasil panen pada periode tersebut juga rusak akibat musim penghujan dan hama penyakit. Kondisi ini berimplikasi merembetnya kekurangan pasokan hingga saat ini akibat produktivitas berkurang.

    "Kenaikan harga ini diprediksi masih berlanjut hingga Juli mendatang karena masuk musim panen," ujar Juwari.

    Juwari berharap saat ini pemerintah bisa segera menyediakan benih untuk menutup kekurangan yang ada. Pasalnya, kata Juwari, harga benih yang ada saat sangat tinggi, yaitu Rp70.000 per kilogram, pada masa normal Rp 25 ribu per kilogram. Dengan begitu, ia memperkirakan biaya untuk menanam 1 hektare bawang merah sebesar Rp 200 juta. Adapun kebutuhan benih tiap hektare sebesar 1,5 ton benih, dapat menghasilkan sekitar 12-15 ton bawang merah.

    Ketua Asosiasi Holtikultura Anton Muslim Arbi mengatakan tingginya harga bawang merah terjadi karena jalur distribusi tersendat. Hal tersebut terlihat dari tindakan pedagang membagikan sayur di Malang, Jawa Timur, pada Mei lalu secara gratis akibat tidak tidak laku karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). "Kelancaran distribusi terganggu, sehingga berpengaruh pada stok di pasar," ujar Anton.

    Kepala Sub Direktorat Bawang Merah dan Sayuran Umbi, Kementerian Pertanian, Mutiara Sari mengatakan pergeseran musim tanam akibat musim hujan yang mundur hingga bulan Desember hingga Februari membuat sentra bawang merah masih ditanami padi sesuai siklusnya. Alhasil, tanam raya bawang merah baru dapat dilakukan bulan Maret hingga April sehingga pasokan relatif rendah selama periode tersebut. Kemudian, biaya benih dan sarana produksi juga cukup tinggi pada musim hujan. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.