Devisa Menguat, Rupiah Diprediksi Perkasa di Level Rp 13.600

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar di pasar spot pada Selasa, 9 Juni 2020, diprediksi perkasa di level Rp 13.600 dengan rentang resisten Rp 13.900. Posisi mata uang Garuda diproyeksikan menguat 100-200 poin dari penutupan perdagangan Senin sore yang tercatat bertengger di level Rp 13.885 per dolar Amerika Serikat.

    "Ini terjadi karena adanya dampak cadangan devisa negara yang mengalami kenaikan cukup signifikan," tutur Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim saat dihubungi Tempo pada Senin petang, 8 Juni 2020.

    Pada akhir Mei, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 130,5 miliar. Angka tersebut naik dari cadangan bulan sebelumnya yang hanya mencapai US$ 127,9 miliar.

    Ibrahim menerangkan, menjelang reaktivasi kegiatan ekonomi, banyak arus modal asing kembali mengalir ke dalam negeri dan membanjiri pasar obligasi, surat utang negara (SUN), serta valas Indonesia. Kondisi ini pun didorong oleh optimisme investor untuk membenamkan dananya di negara-negara yang aman sesuai dengan rekomendasi dari pemeringkat internasional, yakni Moddys Ratings dan Fich Ratings.

    Menurut Ibrahim, dalam jangka pendek, kondisi tersebut bisa menguntungkan bagi Indonesia. Bahkan, rupiah kemungkinan bisa merangkak kuat di level Rp 13.500, hingga Rp 13 ribu.

    Sementara itu di saat yang sama, pelemahan dolar Amerika Serikat juga diperkirakan masih terus terjadi. Situasi itu dipicu oleh sentimen politik Negeri Abang Sam yang bergulir hingga hari ini. "Kita harus ingat bahwa saat ini, di Amerika Serikat, masih ada gejolak demonstrasi akibat rasisme," tuturnya.

    Dengan situasi tersebut, ia memungkinkan para pelaku pasar akan mengoleksi mata uang rupiah. "Rupiah bisa jadi primadona," katanya. Apalagi, kata Ibrahim, bila stimulus moneter terus-menerus digelontorkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.