Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Terus Menurun di Kuartal II 2020

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepadatan kendaraan saat melintas di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat pagi, 5 Juni 2020. Arus Lalu Lintas di beberapa ruas jalan ibu kota pada hari pertama PSBB fase transisi terpantau padat oleh kendaraan masyarakat yang berangkat kerja menuju kantornya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Kepadatan kendaraan saat melintas di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat pagi, 5 Juni 2020. Arus Lalu Lintas di beberapa ruas jalan ibu kota pada hari pertama PSBB fase transisi terpantau padat oleh kendaraan masyarakat yang berangkat kerja menuju kantornya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian Bambang Adi Winarso menyebutkan pertumbuhan ekonomi terus menurun. Bahkan sudah menuju ke arah negatif pada kuartal II/2020 karena penurunan kegiatan ekonomi selama Pembatasan Skala Berskala Besar (PSBB) karena wabah corona atau Covid-19.

    "Pertumbuhan ekonomi menurun dan bahkan sudah menuju daerah negatif pada kuartal kedua 2020. Leading economic indicator menunjukkan penurunan signifikan," ujar Bambang dalam paparan tertulis dalam sebuah diskusi yang dikutip Bisnis, Senin 8 Juni 2020. 

    Dia menyampaikan kegiatan ekonomi dan penjualan barang di semua sektor menurun dengan laju yang berbeda-beda sampai dengan pekan terakhir Mei 2020.

    Menurutnya, perlambatan permintaan dunia, terganggunya rantai penawaran global, serta rendahnya harga komoditas membuat anjloknya volume perdagangan dunia.

    "Sentimen konsumen, pebisnis, dan setimen pasar juga mengalami tekanan," kata dia.

    Pada kuartal I/2020 pertumbuhan ekonomi tercatat melambat lebih cepat dari perkiraan. Ekonomi tercatat hanya tumbuh 2,97 persen. Padahal pemerintah sebelumnya masih optimistis ekonomi tumbuh di atas 4 persen kakrena aktivitas ekonomi masih ada pada kuartal tersebut.

    Pada skenario sangat berat ekonomi Indonesia pada tahun ini diproyeksikan tumbuh -0,4 persen, sedangkan skenario berat tumbuh 2,3 persen.

    Akibat penurunan pertumbuhan ekonomi membuat angka kemiskinan dalam skenario berat bertambah 1,89 juta orang, sedangkan skenario sangat berat melonjak 4,86 juta orang.

    Adapun angka pengangguran pada skenario berat diramalkan mencapai 2,92 juta orang, sedangkan skenario sangat berat naik sebesar 5,23 juta orang.

    Ekskalasi Covid-19 dan perlambatan ekonomi yan tajam harus dimitigasi dampaknya pada kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan extraordinary.

    "Dengan berbagai langkah extraordinary, pemerintah berupaya menjaga agar pertumbuhan dan dampak kesejahteraan tidak menuju skenario sangat berat," kata Bambang.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.