Sinyal Pemulihan Ekonomi Makin Kuat, Harga Emas Kian Melorot

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menerima uang tunai setelah menjual perhiasannya di sebuah toko emas di Bangkok, Thailand, 16 April 2020. Harga emas di Thailand mencapai level tertinggi sejak 2012. REUTERS/Jorge Silva

    Warga menerima uang tunai setelah menjual perhiasannya di sebuah toko emas di Bangkok, Thailand, 16 April 2020. Harga emas di Thailand mencapai level tertinggi sejak 2012. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Jakarta - Sinyal pemulihan perekonomian dunia semakin kuat dengan mulai dibukanya karantina maupun pembatasan sosial di sejumlah negara. Akibatnya, harga emas pun mulai melorot karena minat untuk membeli investasi emas berkurang.

    Seperti diketahui, minat terhadap aset aman seperti emas  biasanya muncul saat ketidakpastian meningkat. Nah, dalam sepekan terakhir, harga emas dunia pelan tapi pasti meredup.

    Harga emas bahkan sudah meninggalkan level US$ 1.700 per troy ounce. Dalam tiga pekan, harga emas sudah jatuh dari posisi tertinggi dalam satu bulan, yaitu US$1.756 per troy ounce pada 15 Mei 2020.

    Di Indonesia, harga emas batangan Antam yang kerap menjadi patokan investor retail juga rontok. Pada 29 Mei 2020, harga emas 24 karat Antam untuk ukuran 1 gram seharga Rp 913.000. Adapun pada Sabtu 6 Juni 2020 harganya sudah turun menjadi Rp 888.000 

    Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menjelaskan, anjloknya harga emas ini berkaitan dengan sentimen positif di pasar keuangan. Pembukaan kembali kegiatan ekonomi di sejumlah negara membuat banyak investor kembali masuk ke pasar berisiko. “Hal ini membuat aset-aset aman seperti emas sedikit ditinggalkan,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Jumat 5 Juni 2020.

    Ia menambahkan, harga emas masih tidak anjlok terlampau dalam karena tertolong oleh banyaknya stimulus yang diberikan oleh bank sentral dan pemerintah sejumlah negara. Hal ini dinilai menjadi salah satu alasan mengapa harga emas tidak turun di bawah level US$1.700 per troy ounce. “Rilis data ketenagakerjaan AS pada hari ini juga akan mempengaruhi pergerakan emas. Apabila lebih buruk dari ekspektasi, harga emas diperkirakan masih dapat naik,” imbuhnya.

    Sementara itu, ia memperkirakan pergerakan harga emas pada pekan depan kemungkinan masih akan terus bertahan di level US$ 1.700 per troy ounce. Ia mengatakan, rapat yang akan dilakukan Bank Sentral AS, The Federal Reserve, pada Kamis depan berpotensi jadi katalis positif untuk harga emas.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Nyoblos di Saat Pandemi, Pilkada Berlangsung pada 9 Desember 2020

    Setelah tertunda karena wabah Covid-19, KPU, pemerintah, dan DPR memutuskan akan menyelenggarakan Pilkada 2020 pada 9 Desember di tahun sama.