Rupiah Diprediksi Menuju Rp 13.600 per Dolar AS Pekan Depan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan reli ke level Rp 13.600 per dolar Amerika Serikat pada pekan kedua di Juni 2020 atau pekan depan.

    “Dalam penutupan pasar Jumat, rupiah ditutup menguat 217 poin ke level Rp 13.877. [Menurut saya] dalam perdagangan Senin rupiah masih akan menguat kemungkinan mendekati Rp 13.600,” kata Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim kepada Bisnis, Sabtu, 6 Juni 2020.

    Berdasarkan data Bank Indonesia, terakhir kali rupiah menyentuh level itu pada 14 Januari 2020 yakni Rp 13.654.

    Bila rupiah bergerak ke level tersebut, mata uang garuda kembali ke level sebelum terjadi pandemi virus corona (Covid-19).

    Menurut Ibrahim, salah satu faktor penguatan ditopang oleh strategi bauran ekonomi yang diberlakukan Bank Indonesia dan penerapan kenormalan baru oleh pemerintah pusat.

    Di samping itu, suku bunga obligasi yang tinggi menjadi magnet tersendiri bagi pelaku pasar sehingga arus modal asing masuk dengan deras.

    Mata uang garuda telah menguat 15,45 persen dari level Rp 16.413 sejak kuartal II 2020 bergulir. Pakar strategi valuta asing di Malayan Banking Bhd. Yanxi Tan mengatakan penguatan itu ditopang oleh obligasi yang diterbitkan pemerintah.

    “Ekspektasi suku bunga lebih rendah yang bertahan lebih lama di seluruh dunia telah meningkatkan daya tarik obligasi Indonesia,” ujar pakar strategi valuta asing di Malayan Banking Bhd. Yanxi Tan, seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat.

    Bloomberg melansir investor asing telah membeli US$ 973,2 juta obligasi yang diterbitkan pada kuartal II 2020. Jumlah itu belum termasuk obligasi yang dijual sebanyak US$ 8,61 miliar pada kuartal I 2020.

    Mitul Kotecha, Senior Emerging Market Strategist mengatakan pasar tengah mengabaikan kemungkinan masalah fiscal atau pertumbuhan yang tidak sesuai target. Pasalnya, otoritas tengah mendorong penguatan rupiah.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    30 Kursi Pejabat BUMN dan Pemerintah Diisi Perwira Polisi

    Sebagian dar 30 perwira polisi menduduki jabatan penting di lembaga pemerintah. Sebagian lainnya duduk di kursi badan usaha milik negara alias BUMN.