Luhut: Bank Dunia Prediksi Pemulihan Ekonomi Butuh Waktu 5 Tahun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri PPN/Kelapa Bappenas Suharso Monoarfa berbincang dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020. Para menteri tampak berbincang santai sembari menunggu rapat yang dipimpin Presiden Jokowi itu dimulai. TEMPO/Subekti

    Menteri PPN/Kelapa Bappenas Suharso Monoarfa berbincang dengan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 25 Februari 2020. Para menteri tampak berbincang santai sembari menunggu rapat yang dipimpin Presiden Jokowi itu dimulai. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan negara-negara di dunia umumnya membutuhkan waktu lima tahun untuk memulihkan kondisi ekonomi pasca-pandemi corona. Wabah ini diakui telah mengakibatkan sejumlah sektor tumbang sehingga angka produk domestik bruto (PDB) menurun tajam.

    "Saya tadi malam bicara hampir 2 jam dengan World Bank (Bank Dunia). World Bank memprediksi mungkin negara-negara untuk bisa pulih kembali income per kapitanya butuh waktu sampai 5 tahun," tutur Luhut dalam diskusi bersama Medcom Id, Senin petang, 2 Juni 2020.

    Luhut menjelaskan, efek buruk virus corona terhadap pelemahan ekonomi bukan hanya dirasakan oleh Indonesia. Namun juga dialami sebanyak 215 negara di dunia.

    Pelemahan ekonomi mulanya dirasakan secara global setelah Cina--negara yang ditengarai menjadi titik awal munculnya virus corona--menutup akses atau lockdown untuk mencegah penyebaran wabah. Kebijakan itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi Cina tersungkur sampai -6,8 persen dari sebelumnya 6 persen.

    Melemahnya perekonomian Negeri Tirai Bambu ikut berdampak terhadap penurunan sektor pariwisata hingga kinerja perdagangan luar negeri. Selain itu, situasi tersebut berpengaruh terhadap fluktuasi harga komoditas dunia.

    Menurut Luhut, hal ini terjadi karena Cina mengontrol 18 persen dari total keseluruhan ekonomi global. "Itu besar sekali. Jadi suka tidak suka akan berdampak pada penurunan ekonomi global," tutur Luhut.

    Bahkan, dia mencontohkan, keadaan negara dengan keuangan kuat, seperti Singapura, ikut terhuyung-huyung lantaran pertumbuhan ekonominya minus 2,2 persen. Sementara itu di Indonesia, Luhut mengungkapkan pelemahan ekonomi Cina telah berdampak terhadap enam sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB.

    Beberapa di antaranya adalah sektor pengolahan dan perdagangan besar. "Kontribusi enam sektor ini ke PDB mencapai 69 persen," ucap Luhut.

    Di tengah sentimen global, Luhut optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan mencapai level 3 persen pada akhir tahun. Meski, ujar dia, skenario berat dengan pertumbuhan 0 persen masih tetap harus diwaspadai.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.