New Normal, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG Aman

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pengemudi ojek online melakukan pengisian BBM di SPBU Cikini, Jakarta, Selasa, 14 April 2020. PT. Pertamina memberikan bantuan cashback 50% kepada ojek darling hingga 12 Juli 2020 demi mereda pandemi virus corona. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) siap untuk permintaan di masa tatanan kenormalan baru atau new normal

    VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa pihaknya saat ini memiliki pasokan BBM yang cukup, meskipun pihaknya belum dapat memproyeksikan peningkatan konsumsi pada masa tersebut.

    "Pada intinya, Pertamina sudah siap untuk memastikan ketersediaan dan distribusi BBM dan LPG," ujarnya kepada Bisnis, Senin 1 Juli 2020.

    Adapun, berdasarkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) per 25 Mei 2020, stok premium sebanyak 1,39 juta kiloliter (kl), Pertalite 1,34 juta kl, Pertamax 1,31 juta kl, Pertamax Turbo 44.093 kl, Solar 1,75 kl, Pertamina Dex 65.551 kl, Dexlite 44.585 kl, kerosene 78.475 kl.

    Fajriyah mengatakan bahwa, selama masa pandemi Covid-19, terjadi penurunan permintaan yang tajam pada prooduk BBM dengan rata-rata penurunan sebesar 30 persen.

    Sementara itu, untuk kota-kota besar yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penurunan permintaan bisa mencapai 50 persen sampai dengan 60 persen.

    Dia mengungkapkan, kondisi itu menyebabkan persediaan BBM Pertamina menjadi meningkat, karena pasokan yang seharusnya telah habis pada bulan sebelumnya hingga saat ini masih ada.

    "Hal ini juga meningkatkan biaya inventory Pertamina. Semua karena demand memang tidak ada atau menurun tajam karena sangat rendahnya aktivitas masyarakat dan juga industri banyak yang tutup," ungkapnya.

    Lebih lanjut, dia mengatakan dampak pandemi yang dirasakan secara global khususnya pada industri migas menyebabkan terjadinya over supply karena permintaan yang menurun akibat rendahnya aktivitas masyarakat.

    Hal itu mendorong terjadinya penurunan harga minyak mentah dunia, meskipun pada saat ini sudah kembali pada tren naik.

    Bagi Pertamina, kata Fajriyah, kondisi tersebut telah menyebabkan penurunan nilai aset-aset hulu migas, oleh sebab itu penurunan pendapatan juga dirasakan oleh sektor hulu.

    "Namun sektor hulu tetap terus diupayakan berjalan, karena Pertamina harus menjaga dan menjamin ketersediaan energi dan juga menggerakkan ekosistem migas di Indonesia," jelasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Nyoblos di Saat Pandemi, Pilkada Berlangsung pada 9 Desember 2020

    Setelah tertunda karena wabah Covid-19, KPU, pemerintah, dan DPR memutuskan akan menyelenggarakan Pilkada 2020 pada 9 Desember di tahun sama.