Inflasi Mei 0,07 Persen, BPS: Situasi Tidak Biasa

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang sayur melayani pembeli di Pasar Tebet, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08 persen yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi virus Corona. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang sayur melayani pembeli di Pasar Tebet, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2020 sebesar 0,08 persen yang disebabkan permintaan barang dan jasa turun drastis akibat pandemi virus Corona. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat laju inflasi sepanjang Mei 2020 hanya sebesar 0,07 persen. Laju inflasi ini dicatat dari 90 kota pemantauan.

    "Sangat jauh jika dibandingkan tahun lalu yang 0,68 persen. Situasi tidak biasa karena Covid-19, tidak pasti karena banyak kejadian, tidak biasa, beda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam siaran langsung Selasa, 2 Juni 2020.

    Menurut Suhariyanto, pada periode Ramadan dan Idul Fitri, inflasi biasanya tinggi karena permintaan tinggi. Namun pada Lebaran tahun ini, hal itu tidak terjadi karena penyebaran wabah virus Corona atau Covid-19.

    BPS mencatat, inflasi tahun kalender atau Mei terhadap Desember sebesar 0,90 persen. Lalu, inflasi tahunan atau Mei 2020 terhadap Mei 2019 sebesar 2,19 persen.

    Dari 90 kota yang dalam pemantauan Indeks Harga Konsumen, 67 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,20 persen dengan IHK sebesar 104,57. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Tanjung Pinang, Bogor, dan Madiun masing-masing sebesar 0,01 persen dengan IHK masing-masing sebesar 102,62; 105,94; dan 103,20. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 0,39 persen dengan IHK sebesar 106,41 dan terendah terjadi di Manado sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 104,63.

    Suhariyanto menerangkan, inflasi dapat terjadi karena ada kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Catatan BPS, kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,09 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen. Selain itu, kelompok kesehatan mengalami kenaikan sebesar 0,27 persen; kelompok transportasi sebesar 0,87 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,08 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,06 persen. Sedangkan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,08 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,12 persen.

    Adapun kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,32 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok pendidikan.

    Komponen inti pada Mei 2020 mengalami inflasi sebesar 0,06 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari– Mei) 2020 sebesar 0,84 persen dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Mei 2020 terhadap Mei 2019) sebesar 2,65 persen.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.