Restrukturisasi Kredit Masif, LPS: Sistem Perbankan Normal

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    Logo baru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menyebutkan sistem perbankan dalam kategori normal meski restrukturisasi kredit terus dilakukan secara masif. Dalam catatannya, Indeks Stabilitas Perbankan atau Banking Stability Index (BSI) hingga 18 Mei 2020 berada dalam level 99,56.

    Indeks Stabilitas Perbankan atau Banking Stability Index (BSI) dibentuk dari dua komponen yakni tekanan pasar yang mencerminkan likuiditas dan jumlah kredit bermasalah. Komponen kedua, yakni cerminan tekanan antar bank.

    Halim menjelaskan besaran BSI itu menunjukkan perbaikan seiring turunnya tekanan pasar atau Market Pressure Index. Hanya saja, BSI memiliki potensi meningkat jika dampak pandemi Covid-19 terus berlanjut.

    Apalagi pemburukan tersebut diikuti dengan pemburukan kualitas aset perbankan sehingga memperburuk kinerja integritas dan likuiditas perbankan. "Fundamental perbankan baik itu juga terlihat dari pergerakan indeks stabilitas perbankan atau BSI yang masih berada dalam kataogori normal. Indeks BSI mengalami penurunan," katanya, belum lama ini.

    LPS juga memproyeksi tekanan stabilitas sistem keuangan (SSK) akan meningkat. Tekanan ini berasal dari volatilitas kinerja pasar keruangan serta melemahnya risiko kinerja perekonomian dari sisi supply dan demand.

    Per Maret 2020 rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 21,72 persen, Loan to deposit ratio (LDR) 91,92 persen, dan return on asset (ROA) 2,54 persen. Dana pihak ketiga perbankan terutama bank umum mengalami kenaikan pada Maret 2020 sebesar 9,54 persen yoy.

    "Langkah pemerintah, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), BI (Bank Indonesia), dan LPS diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan memelihara stabilitas sistem keuangan serta membantu perbankan terhindari dari risiko dalam waktu ke depan," kata Halim.

    Sementara itu, OJK mencatat restrukturisasi kredit yang dijalankan perbankan hingga 26 Mei 2020 mencapai Rp 458,8,1 triliun. Jumlah ini terdiri dari 4,2 juta nasabah UMKM dan 0,71 juta nasabah non UMKM. Plafond kredit nasabah UMKM yang telah direstrukturisasi mencapai Rp 225,1 triliun, sedangkan nasabah non UMKM mencapai Rp 233,7 triliun.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Nyoblos di Saat Pandemi, Pilkada Berlangsung pada 9 Desember 2020

    Setelah tertunda karena wabah Covid-19, KPU, pemerintah, dan DPR memutuskan akan menyelenggarakan Pilkada 2020 pada 9 Desember di tahun sama.