Rupiah Berpotensi Menguat, Diprediksi di Bawah 14.500

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengawali perdagangan Juni, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan penguatan di tengah banyaknya gejolak di pasar global.

    Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa kemungkinan pergerakan rupiah masih akan bergejolak, tetapi cenderung menguat.

    “Walaupun berpotensi dibuka melemah tetapi ada kemungkinan rupiah dapat ditutup menguat di kisaran Rp 14.520-Rp 14.480 per dolar AS,” tulis Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa, 2 Juni 2020.

    Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat, 29 Mei 2020, rupiah berada di level Rp 14.610 per dolar AS, terapresiasi 0,71 persen atau 105 poin. Kinerja rupiah itu pun menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, mengalahkan yen yang hanya menguat 0,46 persen, dolar Australia yang naik 0,44 persen, dan dolar Singapura yang naik 0,42 persen.

    Ibrahim menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah masih digerakkan oleh sentimen eskalasi ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan China.

    Hal itu terjadi seiring dengan Presiden AS Donald Trump yang terus menyerang Negeri Panda itu dengan meminta pertanggungjawaban terkait Covid-19 yang menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

    Selain itu, hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif China.

    Di sisi lain, Bank Indonesia dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pada Kamis, 28 Mei 2020 mengatakan sangat optimistis nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya.

    Yaitu, berpotensi kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-Rp 14.000 per dolar AS.

    Melihat sisi fundamental, Ibrahim memproyeksikan inflasi akan rendah, current account deficit (CAD) menurun, dan aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) akan terus meningkat.

    “Dengan demikian, dapat memperkuat dan memperkokoh mata uang Garuda sehingga BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Juni mendatang,” ujar Ibrahim.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    30 Kursi Pejabat BUMN dan Pemerintah Diisi Perwira Polisi

    Sebagian dar 30 perwira polisi menduduki jabatan penting di lembaga pemerintah. Sebagian lainnya duduk di kursi badan usaha milik negara alias BUMN.