Usai Sensus Online, BPS Akan Lakukan Door-to-door Bulan September

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto usai memberikan sosialisasi persiapan Sensus Penduduk 2020 di Gedung 3 BPS, Jakarta, Jumat 14 Februari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDI

    Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto usai memberikan sosialisasi persiapan Sensus Penduduk 2020 di Gedung 3 BPS, Jakarta, Jumat 14 Februari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDI

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik atau BPS Margo Yuwono mengatakan lembaganya bakal melakukan sensus penduduk secara door-to-door pada September 2020. Sensus offline akan dilakukan untuk melengkapi sensus online yang belum mencakupi seluruh penduduk Indonesia.

    "Sensus itu kan cakupannya untuk semua penduduk, jadi kami akan melakukan sensus secara offline atau door-to-door untuk menduduk yang belum ikut secara online, pada September selama satu bulan full," ujar Margo kepada Tempo, Kamis, 28 Mei 2020.

    Sejauh ini penduduk yang merespon di sensus.bps.go.id baru mencapai sekitar 47 juta penduduk. Artinya capaian baru sekitar 77 persen dari target pengisi sensus penduduk online. BPS menargetkan sensus daring itu bisa menjangkau 22,9 persen dari total penduduk atau sekitar 61 juta penduduk. "Kami sedang mengevaluasi lagi apakah akan diperpanjang atau tidak," ujar Margo.

    Sebelumnya BPS telah memperpanjang tenggat waktu sensus penduduk tersebut. Mulanya, sensus online ditencanakan berlangsung 15 Februari hingga 31 Maret 2020. Namun, lantaran adanya wabah Covid-19 dan target sensus daring yang belum tercapai, maka tenggat waktu sensus daring tersebut diperpanjang ke Mei 2020.

    Untuk memaksimalkan satu hari sebelum penutupan sensus penduduk online, Margo mengatakan lembaganya sudah melakukan publikasi melalui beberapa saluran. Saluran publikasi itu misalnya melalui media sosial, sekolah, kementerian dan lembaga, hingga dinas-dinas di daerah.

    Pada awal tahun, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan sensus penduduk 2020 akan menjadi tolak ukur bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pembangunan yang efektif.

    "Data yang akurat sangat penting untuk kebijakan yang tepat. Jangan sampai eksekusi program atau kebijakan tidak berpegang data akurat," kata Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020.

    Jokowi mengatakan, saat ini, data menjadi komoditas yang paling penting di dunia. "Saya sering menelepon langsung kepala BPS untuk menanyakan langsung soal data. Data adalah 'the new oil', bahkan lebih berharga dari minyak," kata Kepala Negara.

    Menurut Jokowi, saat ini jumlah penduduk di Indonesia 267 juta jiwa. Ia memprediksi angka ini akan meningkat menjadi 319 juta penduduk pada 2045. Dengan penduduk sebanyak itu, data demografi dan persebaran menjadi penting untuk menentukan kebijakan pembangunan yang tepat.

    CAESAR AKBAR | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BUMN Bio Farma Produksi Vaksin Virus Corona 2021, Ada Syaratnya

    Bio Farma memerlukan akan produksi vaksin virus corona awal 2021 bila semua syarat terpenuhi. BUMN itu bekerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd.