Terimbas Sentimen Negatif, IHSG Bakal Melemah pada Pagi Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaDirektur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG di Bursa Efek Indonesia bakal terkonsolidasi melemah pada awal pekan perdagangan pagi hari ini, Selasa, 26 Mei 2020.

    "Melihat sebagian besar sentimen pasar yang ada relatif negatif di tengah terkoreksi pasar saham dunia pada saat pasar Indonesia libur, kami perkirakan IHSG akan cenderung konsolidasi melemah di awal pekan dan berpotensi mengalami rebound pada akhir pekan," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Senin, 25 Mei 2020. Adapun suppot IHSG diperkirakan ada di level 4.460 sampai 4.317 dan resistance di level 4.609 sampai 4.726.

    Hans melihat ada sejumlah isu yang dipantau oleh pelaku pasar yang bisa memengaruhi pergerakan di pasar modal pada pekan depan, antara lain Rencana Undang-undang Keamanan Nasional baru Cina yang membuat Beijing punya kontrol yang lebih besar pada Hong Kong. RUU ini ditentang Amerika Serikat dan berpotensi menimbulkan perang dingin antara dua negara adi daya tersebut.

    Tensi antara dua negara dengan pengaruh ekonomi besar di dunia itu juga semakin memanas dengan adanya tuduhan dari Presiden AS Donald Trump bahwa pemerintah Negeri Panda tidak mampu mengatasi pandemi Covid-19, sehingga penyakit tersebut menyebar ke seluruh dunia.

    Belum lagi dengan adanya Rancangan Undang-undang yang disetujui Senat AS terkait peningkatan pengawasan terhadap perusahaan Cina. "Ini adalah sentimen negatif di pasar keuangan dan kemunduran dalam perkembangan pasar modal dunia khususnya Amerika Serikat," ujar Hans.

    Di sisi lain, pelonggaran bertahap lockdown oleh sebagian negara bagian Amerika dan negara-negara dunia menjadi sentimen positif bagi pergerakan pasar modal pekan depan. Namun, kekhawatiran gelombang kedua penularan Covid-19 menjadi perhatian pasar.

    Pelonggaran lockdown itu pun diharapkan bisa menekan angka pengangguran di Negeri Abang Sam yang masih tinggi, walau pun trennya turun. "Pasar mengkhawatirkan tidak terjadinya penciptaan lapangan kerja seperti yang diharapkan meskipun telah ada pelonggaran lockdown," kata Hans.

    Hans mengatakan beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penting bagi pasar keuangan dunia. Pasalnya, pelaku pasar akan mencermati apakah pelonggaran lockdown mampu meningkatkan daya beli serta mengembalikan perekonomian ke taraf normal seperti sebelum Covid-19 melanda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.