Harga Gula di Tingkat Petani Bulan Depan Terancam Jeblok

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah buruh mengangkut tebu hasil panen untuk dikirim ke pabrik gula saat musim giling perdana tahun ini di kelurahan Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Selasa (29/5). ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Sejumlah buruh mengangkut tebu hasil panen untuk dikirim ke pabrik gula saat musim giling perdana tahun ini di kelurahan Kedungkandang, Malang, Jawa Timur, Selasa (29/5). ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) M. Nur Khabsyin mendesak agar pemerintah segera mengintervensi harga gula. Intervensi menjelang puncak masa giling yang tiba pada Juni mendatang ini mutlak diperlukan untuk melindungi harga gula di tingkat petani.

    Pasalnya, menurut Nur, pasokan gula impor ke pasar yang belum maksimal dikhawatirkan akan menekan harga tebu saat panen nanti. Padahal, petani mengharapkan harga yang layak pada masa panen ini.

    Harga rata-rata gula nasional sendiri mulai turun seiring dengan bertambahnya pasokan gula dari impor. Harga gula berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan disebut telah turun 16 persen menjadi Rp 16.700 per kilogram per 23 Mei 2020 dibandingkan pada April lalu.

    Sementara berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga rata-rata gula secara nasional turun dari Rp 18.250 menjadi Rp 17.400 per kilogram dalam sebulan terakhir. "Gula impor dan realokasi seharusnya sudah disalurkan dan diserap pasar sebelum musim giling agar harga petani tidak anjlok karena pasokan yang melimpah. Seharusnya petani bisa menikmati harga yang bagus," ujar Nur, Senin, 25 Mei 2020.

    Nur menilai harga gula di petani belum optimal meski masa giling belum mencapai puncaknya. Di sejumlah pabrik yang telah melakukan penggilingan, dia mengatakan harga gula tebu berkisar Rp 12.000 – Rp 12.500 per kilogram. Di sisi lain, harga gula eceran di tingkat konsumen telah menyentuh Rp 13.000 per kilogram di Pulau Jawa.

    Dengan mempertimbangkan sejumlah komponen biaya produksi untuk masa giling pada 2020, APTRI memperkirakan biaya pokok produksi gula tebu sendiri dapat mencapai Rp 12.772 per kilogram. Dengan asumsi keuntungan untuk petani sebanyak 10 persen, maka harga jual di petani diharapkan Rp 14.049 per kilogram.

    Oleh karena itu, Nur berharap pemerintah segera menerbitkan aturan harga acuan gula terbaru untuk mencegah tekanan harga yang lebih dalam seiring potensi masih disalurkannya gula impor ke pasar. Dengan begitu, petani bisa terlindungi.

    Kajian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebelumnya menyebutkan kenaikan harga gula di Indonesia justru kontras dengan harga gula global. Harga gula di dalam negeri tercatat 247 persen lebih mahal dibanding harga gula luar negeri per minggu kedua Mei.

    Selama kurun waktu satu tahun terakhir, harga gula dunia cenderung stabil dan bahkan turun pada periode Februari sampai April 2020. Sementara di dalam negeri, harga gula justru merangkak naik sejak awal tahun dan mencapai puncaknya pada April dengan harga yang mencapai 47 persen di atas acuan.

    Di sisi lain, KPPU pun menyoroti margin gula yang besar dari tingkat produsen ke konsumen. Dalam kondisi produksi yang paling efisien, biaya produksi gula tebu di dalam negeri tergolong rendah di kisaran Rp 6.000 – Rp 9.000 per kilogram. Biaya produksi yang efisien pun dinikmati oleh pabrik gula berbasis bahan baku impor.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    30 Kursi Pejabat BUMN dan Pemerintah Diisi Perwira Polisi

    Sebagian dar 30 perwira polisi menduduki jabatan penting di lembaga pemerintah. Sebagian lainnya duduk di kursi badan usaha milik negara alias BUMN.