Tren Parsel Turun, Angkutan Logistik Lebaran Anjlok 70 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemudik bersiap turun dari kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa 19 Mei 2020. Pada H-5 Idul Fitri, arus mudik di Pelabuhan Ketapang terpantau ramai penumpang pejalan kaki dari Pulau Bali, sedangkan dengan tujuan Pulau Bali didominasi angkutan logistik. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    Pemudik bersiap turun dari kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa 19 Mei 2020. Pada H-5 Idul Fitri, arus mudik di Pelabuhan Ketapang terpantau ramai penumpang pejalan kaki dari Pulau Bali, sedangkan dengan tujuan Pulau Bali didominasi angkutan logistik. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Kinerja angkutan logistik selama Ramadan dan Lebaran 2020 tercatat anjlok hingga 70 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Asosiasi Logistik Indonesia atau ALI mencatat, penyumbang anjloknya kinerja ini berasal dari pengiriman jarak jauh, baik melalui transportasi darat maupun udara.

    "Tahun lalu, empat minggu sebelum Lebaran, kami sudah susah mencari truk karena demand-nya (permintaannya) tinggi. Sekarang banyak sekali truk yang tidak mengangkut muatan," ujar Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Ilham Masita saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 23 Mei 2020.

    Zaldi menduga situasi tersebut didorong oleh menurunnya tren pemberian parsel dari perusahaan-perusahaan besar kepada karyawan maupun mitra lantaran krisis pandemi Covid-19. Di samping itu, tren masyarakat membeli barang-barang untuk kategori produk yang umumnya laku saat Lebaran pun melemah.

    Ia mencontohkan produk yang menurun permintaannya adalah elektronik, fashion, dan otomotif. Hal ini terjadi karena adanya penurunan daya beli masyarakat akibat krisis.

    Di sisi lain, Zaldi mengungkapkan memang ada tren kenaikan permintaan untuk pengiriman barang jarak dekat. Namun, kenaikannya tak sebanding dengan angka kumulatif pertumbuhan pengangkutan barang.

    "Ada kenaikan untuk pengiriman makanan dan bahan makanan. Kenaikannya sekitar 30-40 persen. Pengantarannya banyak dilakukan oleh perusahaan on demand transportasi atau ojek online," ucapnya.

    Menindaklanjuti kondisi ini, Zaldi mengungkapkan perusahaan logistik masih terus berupaya mempertahankan kinerjanya meski tergerus krisis. Bahkan, seluruh anggota asosiasi tengah bertahan untuk tidak menutup usaha.

    "Caranya, perusahaan logistik mengaktifkan survival mode. Investasi sudah pasti dikurangi atau ditahan dulu," tuturnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.