Bersaing Merebut Dana Nasabah, Perbankan Naikkan Bunga Deposito

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi menabung. Shutterstock

    Ilustrasi menabung. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank kecil menengah mulai gencar meningkatkan tingkat suku bunga simpanan dan deposito. Persaingan perhimpunan dana kian ketat di tengah pelemahan perekonomian akibat dampak wabah Covid-19. Presiden Direktur PT Bank Mayapada International Tbk, Hariyono Tjahjarijadi mengungkapkan kondisi likuiditas di pasar telah menunjukkan sinyal pengetatan, sehingga bank mau tak mau harus mengambil strategi penyesuaian suku bunga.   

    “Kami harus menyesuaikan dengan pasar untuk bisa bersaing, saat ini kami menawarkan suku bunga deposito di kisaran 7-7,5 persen,” ujar Hariyono kepada Tempo, Ahad 17 Mei 2020. Tingkat bunga itu berada di atas tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah bank umum oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yaitu 5,75 persen.

    Walhasil, kenaikan suku bunga deposito itu menyebabkan beban bunga yang harus ditanggung bank semakin meningkat. Padahal, kinerja penyaluran kredit dalam periode pandemi saat ini cenderung seret, ditambah lagi bank tengah kewalahan memenuhi permohonan restrukturisasi kredit nasabah. “Ini antara lain berdampak pada cashflow bank,” kata Hariyono. 

    Kondisi serupa dialami oleh PT Bank Sahabat Sampoerna (BSS). Chief Financial Officer BSS, Henky Suryaputra berujar bank berupaya menyeimbangkan permintaan restrukturisasi nasabah, di satu sisi tetap menyalurkan pembiayaan dengan hati-hati. Adapun tingkat suku bunga yang ditawarkan BSS saat ini berada di kisaran 6,0 – 6,5 persen. “Kami memilih untuk menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan nasabah daripada berperang suku bunga dengan bank lain.”

    Direktur Utama Bank Ina Perdana, Daniel Budirahayu mengamini ketersediaan likuiditas menjadi prioritas industri saat ini. “Likuiditas itu penting bagi bank, ibarat aliran darah di tubuh, jadi kalau itu stop kita collapse,” katanya. Menurut Daniel, aliran likuiditas saat ini belum merata dan cenderung banyak terparkir di bank-bank besar. “Informasi di pasar saat ini banyak nasabah yang mengalihkan dananya dari bank kecil ke bank besar. Karena kondisi sekarang orang cenderung mencari safe heaven.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.