KPPU: Harga Gula di RI Jauh Lebih Mahal dari Harga Internasional

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja mengambil karung gula pasir di pusat grosir, di Bandung (8/9). Di tingkat grosir harga naik dari semula Rp 340.000/karung (50kg), kini dijual Rp 475.000/karung. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    Seorang pekerja mengambil karung gula pasir di pusat grosir, di Bandung (8/9). Di tingkat grosir harga naik dari semula Rp 340.000/karung (50kg), kini dijual Rp 475.000/karung. Foto: TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU Guntur Saragih menyatakan pihaknya bakal memproses berbagai pihak yang sengaja menunda distribusi gula pasir agar mendapatkan rente. Saat ini harga gula pasir yang diakses oleh masyarakat masih tergolong tinggi meskipun gula impor telah masuk ke pasar.

    Kami melihat persoalan gula pasir telah bergeser dari keterlambatan penerbitan surat persetujuan impor atau SPI menjadi ketidaklancaran distribusi produk yang sudah ada di Tanah Air,” ujar Guntur, Kamis, 14 Mei 2020. Walhasil, persoalan berkurangnya pasokan gula di pasar melibatkan perilaku pelaku usaha terkait.

    Oleh karena itu, KPPU akan meningkatkan status pengawasan gula pasir menjadi proses inisiatif di penegakan hukum. Peningkatan status dari kajian sektoral tersebut dilakukan untuk lebih memfokuskan pengawasan KPPU pada perilaku para produsen dan distributor dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional.

    “Hal ini mengingat kemungkinan adanya pengaturan distribusi gula pasir yang diduga mengakibatkan tingginya harga gula pasir, meskipun telah terdapat realisasi impor yang cukup," ucap Guntur.

    Guntur menjelaskan, salah satu hal yang mendasari KPPU meningkatkan status pengawasan gula pasir adalah fenomena tingginya harga gula di masyarakat. Jika dibandingkan dengan data yang dikeluarkan International Sugar Organization, harga gula nasional 240-260 persen lebih tinggi dibandingkan harga internasional pada bulan April dan Mei 2020. Saat ini harga gula internasional mencapai US$ 336,75 per ton atau Rp 5.000 per kilogram (kurs Rp 14,885.29 per kilogram).

    Sangat tingginya selisih harga gula nasional dan harga gula internasional ini yang dinilai menciptakan insentif bagi produsen dalam melakukan importasi gula daripada meningkatkan produksi atau menyerap produksi domestik. Kajian di KPPU, kata Guntur, menilai bahwa jumlah kuota impor gula dalam persetujuan impor seyogyanya cukup. Namun karena izin terlambat keluar, baru sedikit dari izin impor gula yang direalisasikan.

    Lebih jauh Guntur menyebutkan, persoalan penerbitan SPI dan realisasinya teratasi dengan terlaksananya pelaksanaan impor gula sekitar 400 ribu ton, namun harga di pasaran masih cukup tinggi. Kajian di KPPU juga menunjukkan bahwa pada periode Mei 2020, harga gula rata-rata nasional di pasar tradisional mencapai 44 persen di atas harga acuan penjualan tingkat konsumen, sementara di pasar retail modern mencapai 24 persen di atas harga acuan.

    Tidak hanya itu, harga lelang gula rata-rata pada 2020 berada di kisaran Rp 12.000 per kilogram, tidak jauh dari harga acuan penjualan di tingkat konsumen yakni Rp 12.500 per kilogram. Bahkan sempat terdapat harga lelang yang berada di atas harga acuan.

    Karena berbagai fakta hasil temuan kajian tersebut, KPPU memutuskan untuk meningkatkan dan memfokuskan status pengawasan gula pasir pada perilaku produsen dan distributor. "Sebagai inisiatif di bawah proses penegakan hukum yang ada,” ucap Guntur.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.