Belanja Online Marak, Angkutan Kereta Logistik Naik 16 Persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah sepeda motor yang akan dikirimkan menggunakan kereta api terlihat di kawasan Senen, Jakarta, Senin, 4 Mei 2020. Penurunan ini diperparah dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah serta larangan mudik menjelang Lebaran. Tempo/Tony Hartawan

    Sebuah sepeda motor yang akan dikirimkan menggunakan kereta api terlihat di kawasan Senen, Jakarta, Senin, 4 Mei 2020. Penurunan ini diperparah dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah serta larangan mudik menjelang Lebaran. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan mencatat angkutan kereta logistik sepanjang Maret 2020 meningkat 16 persen. Peningkatan terjadi karena melonjaknya permintaan pasar terhadap barang-barang dan kebutuhan pangan yang dipesan melalui platform e-commerce.

    "Sebaliknya, jumlah peti kemas yang diangkut menggunakan kereta turun 15 persen selama masa pandemi karena penuruan ekspor/impor," tutur Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Perhubungan Kementerian Perhubungan, Cris Kuntadi, Kamis, 14 Mei 2020.

    Angka itu dilaporkan ketika Cris meninjau beberapa stasiun yang melayani angkutan barang, seperti Stasiun Jakarta Gudang, Stasiun Sungai Lagoa, dan Stasiun JICT Pasoso. Peninjauan dilakukan untuk memastikan bahwa angkutan barang tak terganggu menjelang Lebaran di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    Cris menuturkan, Kementerian saat ini akan mendorong angkutan kereta sebagai alternatif utama pengiriman barang menggantikan truk. Musababnya, selama masa pandemi corona, truk dilarang melintas di beberapa ruas jalan.

    Di samping itu, Cris juga melihat ada banyak potensi yang bisa dilakukan oleh operator angkutan kereta api untuk meningkatkan angkutan logistiknya. Dari sisi harga, misalnya, angkutan logistik menggunakan kereta diklaim jauh lebih murah dibandingkan dengan truk. "Hanya Rp1.500 per kilogram dengan batas minimal pengiriman seberat 5 kilogram," ucapnya.

    Agar angkutan kereta logistik digemari masyarakat, ia meminta operator, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan pembenahan. Misalnya terkait mekanisme pengantaran barang yang hanya dilakukan stasiun per stasiun.

    Selain itu, Cris berpendapat bahwa KAI semestinya menyediakan fasilitas baru, yakni pendingin, agar produk pangan tetap awet dan segar sampai ke tempat tujuan. Sebab, tutur dia, selama masa pandemi, pengiriman bahan pangan dan holtikultura meningkat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.