Ridwan Kamil Risau Data Penerima Bansos Naik Jadi 38 Juta Jiwa

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat mengikuti Virtual Roundtable Discussion with Foreign Ambassadors dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin (11/5/20). (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat mengikuti Virtual Roundtable Discussion with Foreign Ambassadors dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin (11/5/20). (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil risau karena jumlah penerima bantuan sosial atau bansos meningkat dari 25 persen menjadi 63 persen.

    "Dari 9 juta jiwa menjadi 38 juta jiwa. Indikator ini yang agak merisaukan," kata Ridwan dalam diskusi virtual, Rabu, 13 Mei 2020.

    Adapun, kata dia, saat ini total anggaran Jawa Barat untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp 11,8 triliun.

    Dia juga mengatakan masih ada berbagai tantangan dalam penyaluran bansos. Pertama soal data yang tidak lengkap atau valid.

    "Ada yang sudah meninggal dan ada yang sudah sejahtera. Itu membuat kami terus memperbaharui data dan membutuhkan waktu," ujarnya.

    Kedua, duplikasi data. Dia mencontohkan masih terdapat satu NIK digunakan oleh sembilan nama yang berbeda. Ketiga, data tidak selaras dan tidak terupdate.

    Keempat, tumpang tindihnya penerima bantuan sosial juga masih terjadi. Selain itu, kata dia, ada masalah soal komputasi. Pemrosesan rekapitulasi data tidak dapat dilakukan dengan cara konvensional dengan menggunakan Excel, karena jumlah data lebih dari 1 juta baris dan kolom. Menurutnya, membutuhkan pemrosesan menggunakan metode data sains.

    Dia juga menuturkan total terakhir pendataan penerima bantuan sosial 9,3 juta jiwa kartu keluarga. Jumlah itu dibagi menjadi 8 pintu bantuan.

    "Kalau satu pintu satu waktu itu relatif satu komando. Ini kami harus membagi jadi delapan pintu, siapa di pintu satu dan pintu delapan itu tidak sederhana," kata dia.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.