Dampak Pandemi Covid-19, Pengelola Bandara Berhemat Triliunan

Reporter:
Editor:

Anton Aprianto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas membersihkan area selasar di terminal kedatangan domestik, Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Sabtu, 25 April 2020. PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Internasional Minangkabau meniadakan seluruh penerbangan penumpang mulai Sabtu 25 April 2020 hingga 1 Juni 2020 menindaklanjuti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. ANTARA

    Petugas membersihkan area selasar di terminal kedatangan domestik, Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Sabtu, 25 April 2020. PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Internasional Minangkabau meniadakan seluruh penerbangan penumpang mulai Sabtu 25 April 2020 hingga 1 Juni 2020 menindaklanjuti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. ANTARA

    TEMPO.Co, Jakarta - PT Angkasa Pura I (Persero) berencana menurunkan belanja modalnya atau capital expenditure senilai Rp 3,9 triliun menjadi Rp 6,3 triliun dari kas internal perusahaan sebagai dampak virus Corona. Semula, perseroan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 10,2 triliun untuk belanja modal sepanjang 2020.

    "Ada beberapa investasi baru yang kami batalkan. Sisanya tetap kami realisasikan sampai akhir tahun sehingga tidak mengganggu cashflow (arus kas) perusahaan," tutur Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam wawancara bersama Tempo pada Selasa, 12 Mei 2020.

    Faik menjelaskan, upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas perusahaan di tengah pandemi virus Corona atau pandemi Covid-19. Adapun belanja modal perusahaan akan dialokasikan untuk pelbagai proyek strategis pengembangan bandara yang direncanakan kelar tahun ini hingga pertengahan tahun mendatang.

    Proyek yang ia maksud di antaranya ialah pengembangan Bandara Internasional Juanda, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Internasional Pattimura Ambon, dan Bandara Internasional Lombok. Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini sudah menggarap dua proyek strategis, seperti Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dan Bandara El Tari di Kupang.

    Di samping itu, perseroan juga masih mengagendakan beberapa proyek yang telah berjalan. Misalnya pengembangan Bandara Sentani di Jayapura yang pengelolaannya baru saja diambil alih oleh Angkasa Pura I. Di bandara ini, perseroan membenamkan investasi senilai Rp 500 miliar untuk perbaikan fasilitas dan penyesuaian standar sarana-prasarana.

    Angkasa Pura I juga masih akan melanjutkan proyek pengelolaan bandara baru di Kediri. Proyek ini dikerjasamakan dengan PT Gudang Garam Tbk.

    Di samping menurunkan belanja modal, perusahaan juga melakukan pelbagai cara untuk menekan dampak pandemi. Misalnya mengurangi operational expenditure (Opex) sebesar 32 persen. "Kami pastikan penurunan Opex tidak berpengaruh terhadap sisi keselamatan," tuturnya.

    Perusahaan juga mengurangi luasan operasional bandara sebesar 80 persen, mengurangi jam operasional bandara hingga 50 persen, dan memangkas tenaga outsourcing hingga 50 persen. Pada tahun ini, Faik memastikan perusahaannya juga akan melakukan penundaan terhadap penambahan karyawan baru.

    Senasib dengan Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II (Persero) juga telah menurunkan capex-nya untuk tahun ini menjadi Rp 1,4 triliun akibat wabah Corona. Sebelumnya, pada awal tahun ini, perseroan menetapkan belanja modal sebesar Rp 7,8 triliun. 

    President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan belanja modal perusahaan tahun ini dialokasikan untuk sejumlah proyek pengembangan bandara yang bersifat multiyears. “Sejumlah proyek pengembangan multiyears tetap berjalan pada tahun ini, misalnya pembangunan area komersial, perkantoran, dan hotel, yakni integrated building di Bandara Soekarno-Hatta," ujar Awaluddin, pekan lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?