2020, Kepala Bappenas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Capai 1 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suharso Monoarfa tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Suharso Monoarfa tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya mencapai satu persen terimbas pandemi virus Corona atau Covid-19. Pertumbuhan ekonomi itu diprediksi tak mencapai target pemerintah sebesar 2,3 persen karena adanya potensi kontraksi cukup dalam pada triwulan II tahun 2020. 

    “Saya mencatatkan di bawah 2,3 persen, tapi masih positif karena akan terjadi kontraksi pada triwulan II 2020 yaitu April sampai Juni," ucapnya, dalam sambutan Rakorbangpus 2020 secara virtual di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020. "Saya pikir di bawah 2,3 persen, bahkan bisa satu persen."

    Namun begitu, Suharso yakin perekonomian Indonesia berpotensi mulai kembali membaik pada Juli 2020 dengan bergantung pada cara yang digunakan dalam rangka pemulihan ekonomi tersebut. “Juli 2020, mungkin akan lumayan tergantung pada bagaimana pemulihan ekonomi kita," katanya.

    Suharso menjelaskan, dengan adanya prediksi pertumbuhan ekonomi yang jauh dari target itu, maka pendapatan negara akan tergerus. Selain itu tingkat pengangguran diperkirakan bertambah sebesar 4,22 juta orang dibandingkan 2019.

    Dalam hitungan Bappenas, kata Suharso, diperkirakan 2,3 juta sampai 2,8 juta akan terjadi penciptaan lapangan pekerjaan pada 2021. Sementara jumlah pengangguran akan bertambah 4,22 juta pada 2020 dibandingkan 2019.

    Suharso juga mengatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia juga diperkirakan turut bertambah, padahal pemerintah telah menargetkan tingkat kemiskinan dapat ditekan menjadi 9 persen hingga 8,5 persen. “Pada 2020, kita berharap bisa menekannya menjadi 9 persen bahkan 8,5 persen, tetapi mungkin terjadi penambahan. Mudah-mudahan tidak kembali ke dua digit,” ujarnya.

    Lebih jauh Suharso menyebutkan, masih banyak pemerintah daerah yang tidak menyampaikan secara jujur terkait data jumlah penduduk miskin di daerahnya karena ingin dianggap telah sukses menurunkan tingkat kemiskinan. “Soal data terkait sistem perlindungan sosial, banyak daerah ketika ditanya jumlah orang miskinnya karena ingin daerahnya dicatat telah sukses menurunkan jumlah orang miskin, maka jumlah itu pun dikurangi,” katanya.

    Namun di sisi lain, Suharso menuturkan, ketika pemerintah pusat ingin membagikan bantuan sosial secara tiba-tiba pemerintah daerah mengatakan jumlah penduduk miskinnya bertambah. “Ketika ada pembagian bansos daerah mengatakan jumlah orang miskin itu bertambah. Itu bukan hanya dalam masa pandemi ini sebelumnya juga terjadi."

    Oleh sebab itu, Suharso meminta kepada seluruh pemerintah pusat maupun daerah dapat berkoordinasi dengan baik dalam menghadapi berbagai macam persoalan terutama terkait data jumlah penduduk miskin. “Akurasi dan kelengkapan data kemudian memperbarui data itu sedemikian rupa itu sangat penting. Kita harus bersama-sama membasmi kemiskinan mendekati nol pada 2024,” katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.