Corona Gelombang 2 Mengancam Pergerakan IHSG

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pada penutupan perdagangan sesi I hari ini, Selasa 12 Mei 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah 57,44 poin atau 1,24 persen ke posisi 4.639,10. IHSG ikut terseret bursa Asia yang juga melemah karena pelaku pasar khawatir pada penyebaran virus corona (Covid-19) gelombang II. 

    Sejak pembukaan, IHSG langsung menuju zona merah dan terus menunjukkan tren turun sepanjang perdagangan. Bahkan, menjelang penutupan sesi I indeks terpantau terus bergerak di sekitar level terbawahnya yakni 4.580,68.

    Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan pergerakan IHSG dan bursa Asia lainnya lebih disebabkan oleh para pelaku pasar yang khawatir akan adanya ancaman serangan pandemi Corona gelombang kedua. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sentimen beberapa hari silam yang mana pelonggaran lockdown malah memberikan angin segar bagi pasar. Pelonggaran lockdown membuat ekspektasi pelaku pasar terhadap perekonomian kembali pulih. 

    “[Pasar berbalik khawatir] Setelah WHO memberikan peringatan bahwa negara-negara yang melakukan pelonggaran lockdown akan memunculkan kasus Covid-19 baru,” ujar Nafan kepada Bisnis, Selasa.

    Di sisi lain, Nafan menyebut tekanan dari domestik juga ikut berperan yakni berkaitan dengan turunnya kinerja retail sales per Maret 2020 yakni sebesar -4,5 persen.

    Secara umum, hingga sesi I perdagangan hari ini, sebanyak 105 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan sedangkan 265 saham turun dan 126 saham  memerah dan 126 saham stagnan. Jumlah transaksi yang terjadi hingga akhir sesi I mencapai Rp3,21 triliun dan investor asing terpantau masih banyak melakukan aksi jual bersih yakni mencapai Rp515,84 miliar di seluruh pasar.

    Tak jauh berbeda dari BEI, bursa saham di sejumlah negara di Asia juga berada di jalur merah. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 12.33 WIB, kedua indeks Jepang yakni indeks Nikkei 225 dan indeks Topix (Tokyo) kompak terkoreksi, masing-masing turun 0,07 persen dan 0,21 persen. Kemudian ada indeks Hang Seng (Hong Kong) yang terpantau jatuh lebih dalam dari IHSG yakni -1,78 persen. Selanjutnya, indeks SSEC (Shanghai) dan indeks Strait Times (Singapura) juga tak jauh berbeda, dengan pelemahan 0,59 persen dan 1,13 persen. 


    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.