Bappenas: Relaksasi Ekonomi di Zona PSBB Dilakukan Bertahap

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan pemerintah tengah mengkaji relaksasi kegiatan ekonomi di daerah yang ditetapkan sebagai zona pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun, relaksasi itu akan dilakukan secara bertahap.

    "Relaksasi kami berikan untuk sektor tertentu secera bertahap. Tapi yang penting physical distancing, menggunakan masker," ujar Suharso dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat yang dilakukan secara virtual di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020.

    Sebelum melonggarkan kegiatan perekonomian, Suharso menekankan perlu adanya tes polymerase chain reaction (PCR) secara masif di setiap daerah untuk mendeteksi persebaran Covid-19. Tes juga mesti dilakukan berulang kali untuk memastikan keakuratan data.

    Ia mengakui, gagasan untuk merelaksasi kegiatan ekonomi di zona PSBB muncul dari daerah-daerah yang telah menunjukkan pertumbuhan kasus positif corona sangat kecil. Akan tetapi, relaksasi kegiatan ekonomi di daerah itu tak dapat dilakukan serta-merta karena mesti mengacu pada karakter daerahnya.

    Berdasarkan kajian Universitas Indonesia dan Bappenas, pertumbuhan kasus virus corona untuk beberapa daerah, seperti di Jakarta dan Jawa Tengah, memang tengah menunjukkan kurva yang landai. Namun, kata dia, kondisi ini masih perlu diwaspadai. "Belum ada jaminan, generasi kedua (gelombang kedua penyebaran awal) ada atau tidak," tuturnya.

    Sedangkan di luar Jawa, tren pertambahan kasus virus corona masih terlihat. Mengacu pada data itu, ia mengungkapkan bahwa tiap-tiap daerah menghadapi situasi yang berbeda.

    Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya telah membuat kajian awal berisi beberapa jadwal pemulihan bila pandemi virus corona berakhir. Berdasarkan linimasa tersebut, pemerintah membagi tahap pemulihan ke dalam beberapa fase.

    Fase pertama diproyeksikan terjadi pada 1 Juni. Pada tanggal itu, industri dan jasa sudah mulai dapat beroperasi, namun dengan protokol kesehatan Covid-19 yang harus dipatuhi. Sedangkan fase kedua ialah 8 Juni. Saat itu toko, mal, dan pasar diperbolehkan beroperasi, namun tetap dengan pemberlakuan protokol kesehatan khusus.

    Lalu, pada fase ketiga, yakni 15 Juni, ada evaluasi pembukaan salon, spa, dan lain-lain. Pada saat yang sama, sekolah pun dibuka, namun dengan sistem sif. Lantas, museum dan olahraga outdoor juga akan dibuka dan protokol yang sama.

    Selanjutnya, pada fase keempat, yaitu 6 Juli, kegiatan ekonomi aka dibuka dengan tambahan evaluasi. Secara bertahap, restoran, kafe, bar, tempat fitnes pun dijalankan kembali namun tetap mengacu pada aturan kesehatan. Begitu pula dengan kegiatan ibadah yang sudah akan diperbolehkan, tapi dengan pembatasan jumlah jemaah. Kegiatan berskala juga masih akan dibatasi.

    Sedangkan pada fase kelima, yaitu 20 dan 27 Juli, pemerintah akan mengevaluasi empat fase sebelumnya. Adapun pada akhir Juli atau awal Agustus, disebutkan bahwa seluruh kegiatan ekonomi akan dibuka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.