Transportasi Dibuka, Pergerakan Penumpang di Bandara Tak Naik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Soekarno Hatta melakukan rapid test (tes cepat) COVID-19 calon penumpang repatriasi mahasiswa Indonesia sebelum melakukan penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 7 Mei 2020. Pemerintah melalui kementerian Perhubungan membuka kembali penerbangan domestik dengan penumpang bersyarat seperti pebisnis, penumpang Repatriasi, perjalanan dinas pejabat negara dan tamu negara dengan wajib menyertakan surat keterangan Negatif COVID-19 dari rumah sakit. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Soekarno Hatta melakukan rapid test (tes cepat) COVID-19 calon penumpang repatriasi mahasiswa Indonesia sebelum melakukan penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 7 Mei 2020. Pemerintah melalui kementerian Perhubungan membuka kembali penerbangan domestik dengan penumpang bersyarat seperti pebisnis, penumpang Repatriasi, perjalanan dinas pejabat negara dan tamu negara dengan wajib menyertakan surat keterangan Negatif COVID-19 dari rumah sakit. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Upaya pemerintah membuka transportasi bagi angkutan khusus non-mudik tak cukup mendongkrak jumlah penumpang di pelbagai bandara. Di 15 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I (Persero), misalnya, jumlah penumpang yang tercatat sepanjang Mei 2020 hanya 6.753 orang.

    "Dibukanya penerbangan komersial penumpang dengan adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi belum tampak signifikan terjadi di bandara-bandara kami," ujar Vice President Corporate Secretary Angkasa Pura I Handy Heryudhitiawan kepada Tempo, Senin, 11 Mei 2020.

    Minimnya jumlah pergerakan penumpang pun diikuti dengan rendahnya pergerakan pesawat. Handy mengungkapkan, pada periode yang sama, jumlah pergerakan pesawat di seluruh bandara yang dikelola perseroannya hanya 1.616 perjalanan.

    Dengan begitu, rata-rata maskapai penerbangan hanya melayani dua sampai tiga jadwal per hari. Adapun rute utama penumpang untuk angkutan khusus ini ialah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

    "Kemudian, jumlah pax yang diangkut atau load factor-nya masih di bawah 50 persen dari kapasitas pesawat," tuturnya.

    Jumlah pergerakan angkutan penumpang ini tercatat jauh di bawah kinerja angkutan kargo. Sepanjang 1 sampai 9 Mei, Handy mengatakan pergerakan barang yang diangkut melalui bandara milik PT Angkasa Pura I mencapai 8.827 ton.

    Bandara yang melayani lalu-lintas kargo dengan volume tertinggi ialah Bandara Sentani di Jayapura dengan total muatan 4.000 ton. Sedangkan pergerakan pesawat kargo yang tercatat untuk bandara itu mencapai 546 perjalanan.

    Kondisi yang sama dialami oleh PT Angkasa Pura II (Persero). Sejak pemerintah membuka operasional penerbangan untuk keperluan khusus pada 7 Mei lalu, pergerakan pesawat di bandara teramai milik Angkasa Pura II, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hata, per hari hanya mencapai 100-120 penerbangan.

    "Sedangkan untuk hari normal di CGK (Soekarno-Hatta) bisa mencapai 1.200 penerbangan sehari," ujar Vice Presiden of Corporate Communications Angkasa Pura II Yado Yarismano.

    Yado melanjutkan, jumlah penumpang per hari di bandara tersebut di masa PSBB pun hanya mencapai 3.500-4.000 orang. Sedangkan jumlah penumpang pada hari normal sebelum pandemi corona bisa menyentuh 18 ribu hingga 20 ribu orang.

    Kondisi ini tidak hanya terjadi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Melainkan juga di seluruh bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura II. Menurut Yado, upaya pemerintah membuka penerbangan khusus atau exemption flight di masa pandemi tidak terlampau berpengaruh terhadap lonjakan penumpang.

    "Karena memang sifat penerbangan ini terbatas," ucapnya. Perseroan pun disebut tidak sedang berupaya untuk menumbuhkan volume perjalanan penumpang.

    Layanan penerbangan khusus atau exemption untuk keperluan non-mudik sebelumnya telah dibuka pada 7 Mei 2020. Kementerian Perhubungan mengatur, penumpang yang boleh menggunakan layanan angkutan penerbangan ini adalah penumpang dengan kebutuhan pekerjaan tertentu hingga untuk repatriasi atau penerbangan pemulangan warga negara Indonesia (WNI) dari luar negeri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.