Menlu Retno Marsudi: Corona Perdalam Kesenjangan Antar Negara

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi memberikan pernyataan pers terkait larangan masuk sementara bagi warga negara asing ke Indonesia di Kantor Kementerian Luar Negeri Jakarta, Kamis 5 Maret 2020. Pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan masuk sementara ke Indonesia bagi warga negara asing dari sejumlah wilayah di Iran, Korea Selatan dan Italia terkait menyebarnya virus corona di tiga negara. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi memberikan pernyataan pers terkait larangan masuk sementara bagi warga negara asing ke Indonesia di Kantor Kementerian Luar Negeri Jakarta, Kamis 5 Maret 2020. Pemerintah Indonesia mengeluarkan larangan masuk sementara ke Indonesia bagi warga negara asing dari sejumlah wilayah di Iran, Korea Selatan dan Italia terkait menyebarnya virus corona di tiga negara. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan wabah virus Corona atau Covid-19 telah memperdalam tingkat kesenjangan di antara negara-negara, dengan negara miskin menjadi yang paling terdampak.

    “Seperti yang selalu terjadi, negara berkembang dan least developed countries menghadapi risiko yang lebih besar,” kata Retno saat mengisi diskusi publik secara daring mengenai COVID-19, yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dari Jakarta, Jumat, 8 Mei 2020.

    Bahkan Dana Moneter Internasional atau IMF tengah mengantisipasi krisis ekonomi terburuk akibat pandemi Corona ini dengan perkiraaan pertumbuhan ekonomi global turun 3 persen. Sedangkan di Asia Tenggara, Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa turun 1 persen.

    Adapun Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyatakan hampir 1,6 miliar pekerja sektor informal, yang mencakup separuh dari tenaga kerja global, telah terganggu mata pencahariannya.

    Akibat Corona ini juga, Sekretaris Jenderal PBB telah memperingatkan angka kemiskinan dapat meningkat 500 juta orang. Begitu juga Program Pangan Dunia (WFP) menyebut gangguan pada tatanan ekonomi dan langkah-langkah yang diambil untuk menekan laju Covid-19 bisa membawa 130 juta orang ke ambang kelaparan pada akhir tahun ini.

    Hal tersebut ditambah dengan tantangan globalisasi baru dengan banyak negara memberlakukan isolasi dan proteksionisme, Menlu Retno menyebutkan, negara di Asia sering kali mendapat stigma sebagai pembawa virus.

    “Kami orang Asia, sering kali mendapat stigma di banyak tempat sebagai orang yang membawa virus. Orang asing dan warga negara yang kembali juga menjadi sasaran. Kelompok rentan ini adalah yang paling terpukul akibat pandemi,” ucap Retno.

    Padahal di saat yang bersamaan, isolasi dan proteksionisme lewat penutupan perbatasan, pengusiran warga asing, hingga pembatasan ekspor peralatan medis yang justru sangat dibutuhkan oleh semua negara pada masa ini. “Pada saat yang sama, persaingan politik global menguat ketika kekuatan-kekuatan besar memainkan permainan ‘saling menyalahkan’ terkait virus ini,” kata Retno.

    Retno pun menyinggung berbagai perkembangan tersebut tidak kondusif. Karena saat ini seharusnya solidaritas dan kolaborasi global sangat diperlukan untuk memerangi Covid-19.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.