Utang Jatuh Tempo Garuda US$ 500 Juta, Kemenkeu Ikut Putar Otak

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan pihaknya terus bekerja sama dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara untuk mencari jalan keluar atas utang jatuh tempo PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

    "Kami sudah memikirkan beberapa alternatif, kami akan mencari cara untuk membantu Garuda," ujar Luky dalam konferensi video, Jumat, 8 Mei 2020.

    Ia belum memperinci alternatif solusi yang bisa diambil untuk menyelesaikan perkara utang dari perusahaan maskapai pelat merah tersebut.

    Sebab, kata Luky, hingga kini kajian atas opsi-opsi yang ada masih berlangsung. "Ini masih in progress, kami bersama Kementerian BUMN sedang memikirkan jalan keluar untuk Garuda," ujar dia.

    Sebelumnya, Garuda Indonesia menyatakan tengah mengkaji alternatif untuk menyelesaikan persoalan utang obligasi sebesar sekitar US$ 500 juta yang bakal jatuh tempo pada Juni 2020. Obligasi dengan nama dengan nama Garuda Indonesia Global Sukuk Limited pada 5 tahun lalu.

    "Kami punya tiga opsi. Yang pertama dilunasi, yang kedua minta perpanjangan, dan yang terakhir pembayaran dengan diskon," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Rabu, 29 April 2020.

    Menurut Irfan, hari ini harga instrumen surat utang perseroan itu sudah turun ke kisaran 40 persen dari harga awal. Namun, berdasarkan sejumlah kajian, ia mengatakan harga surat utang itu masih bisa menguat di kisaran 60-70 persen dari harga awal.

    Kecuali melunasi utang, Irfan melihat dua opsi lainnya memiliki risiko terhadap kapabilitas keuangan perseroan. "Jadi tiga opsi itu sedang dibahas dengan pemegang saham, yaitu pemerintah dan CT Corps, terkait jatuh temponya ini."

    Di samping itu, untuk bisa melunasi utangnya, perseroan tengah mengkaji opsi refinancing melalui pinjaman bank, khususnya perbankan pelat merah. Kendati, penyaluran kredit perbankan di masa pandemi ini cenderung lebih ketat. Untuk itu, ia pun mengatakan telah berdiskusi dengan bank-bank terkait.

    Utang Garuda sejak awal tahun sudah menjadi sorotan. Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan bahwa utang sejumlah perusahaan pelat merah bakal jatuh tempo pada tahun ini, salah satunya Garuda Indonesia.

    "Garuda yang terberat karena ada utang 500 juta dolar yang akan jatuh tempo," ujar dia dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Jumat, 3 April 2020. Masalah dari Garuda semakin berat lantaran industri penerbangan tengah ambruk dihantam wabah Virus Corona alias Covid-19.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.